Senin, 24 Oktober 2011

The Power of Kepepet

Menurut Jaya Setiabudi, ada dua kondisi yang membuat orang bertindak. Yaitu, keinginan yang kuat dan keadaan kepepet. Hal senada dikatakan praktisi pendidikan Mugito Duido. Dia menyebut, motivasi itu sifatnya suatu iming-iming. Ia lama-kelamaan bisa pudar (fading out), lalu hilang. ”Kita tahu manfaatnya dan tahu itu penting, tapi sering ogah melaksanakannya,” tuturnya.

Nah, apabila motivasi masih tidak dapat mengubah diri kita, diperlukan upaya yang lebih keras. Dongkrak atau doping dengan kondisi kepepet!

***

Abdullah Munir, penulis buku best seller Spiritual Teaching, mengisahkan sebuah pengalamannya ketika dipercaya untuk mengelola sebuah sekolah Islam di Yogyakarta. Dia mengaku agak gamang. Pasalnya, dia masih kuliah waktu itu alias belum lulus. Hal serupa dialami beberapa temannya yang mendapatkan tawaran sama.

Munir kala itu telah menyelesaikan beberapa konsepnya dan mampu menerapkannya dengan baik. Namun, di sisi lain, dia tak mau membohongi orang tua murid karena dirinya belum lulus pendidikan S-1. Dia kepepet. Namun, hal itu justru mengilhami dia untuk menelurkan ide. Yakni, menaruh gelar CSPd untuk calon sarjana pendidikan dan CSAg untuk calon sarjana agama di belakang nama mereka yang belum lulus S-1.

”Dengan begitu, kami merasa tak terbebani dan tak membohongi orang murid,” tulisnya dalam Catatan Cinta Seorang Guru.

***

Bagi penulis pemula, mengemas ide dan menguraikannya dalam bentuk tulisan bukan pekerjaan yang mudah. Mereka bisa saja duduk berjam-jam di depan komputer tanpa menghasilkan satu lembar tulisan pun. Padahal, mereka mungkin pernah atau sering mendapatkan motivasi dari para penulis profesional lewat seminar atau pelatihan menulis.

Namun, seperti dijelaskan pada paragraf sebelumnya, obat yang bernama motivasi bisa hilang. Maksudnya, ketika di dalam kelas mengikuti seminar menulis, otak kita bisa terus-menerus mengingatnya. Namun, saat berada di luar, motivasi tersebut bisa pudar.

Maka, kepepet adalah salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan itu. Bagaimana caranya? Bisa dengan membuat deadline untuk diri sendiri. Misalnya, menulis satu lembar artikel bebas dalam waktu setengah jam atau satu jam. Ciptakan kondisi kepepet itu. Yakni, mau tak mau harus bisa! Mau tak mau harus nulis satu lembar dalam waktu yang sudah ditentukan. Ketika belajar, jangan bicara kualitas, itu belakangan.

Bingung cari judul? Itu belakangan juga, yang penting nulis dulu. Judul bisa didapatkan ketika proses menulis. Dengan menciptakan kondisi kepepet, kita ditantang harus bisa memecahkan masalah.

Kita bisa belajar pada Rudi Hartono. Ketika ditanya apa yang membuat dia menjadi juara, Rudi menjawab: ”Every game is game point!” Artinya, dia menciptakan tekanan pada dirinya sendiri untuk meyakinkan dan menumbuhkan keyakinan kuat bahwa dirinya harus bisa (menang). Terbukti, prestasi Rudi Hartono dikenang sepanjang masa dalam dunia olahraga bulu tangkis dan nama Indonesia pun terangkat. Jika dia bisa, kita juga bisa.

Salam
Eko Prasetyo

Tidak ada komentar: