Senin, 01 Agustus 2011

Puasa Memicu Inflasi

Inflasi itu musuh ekonomi, penyebabnya konon adalah kenaikan harga. Harga barang naik karena banyak yang mencari atau dibeli dalam jumlah yang melebihi biasanya. Jika inflasi terus menerus, nilai tukar uang merosot "gopek kagak cukup buat beli kerupuk nyang harganye udah seceng" kata teman betawiku.

Menjelang dan saat puasa umat Islam yang sebulan penuh, harga barang makanan merayap naik, inflasi naik dan pemerintah siaga. Menteri Perdagangan siap menjamin kesiapan pasokan. Jika stok beras, terigu, telur, ayam dan sayur mayur serta minyak goreng dan bbm tak aman, negeri bisa geger. Segala daya upaya dilakukan mengamankan stok itu.

Semua "gegeran" penyebabnya adalah bulan ramadhan. Benarkan ramadhan niscaya memicu kenaikan harga dan inflasi ? Atau ramadan memang harus berakibat seperti itu ? Karena ramadhan, warga muslim belanja makanan lebih banyak ?

Logika bodoh saya berkata, karena puasa makan hanya 2 kali dari yang biasanya 3 kali, semestinya belanja berkurang sepertiga. Tetapi karena puasa bukan ngirit, maka belanja justru melebihi 3 kali makan.

Puasa mestinya secara fisik mengurangi makan kita sepertiganya, sehingga ketika sang badan usai ramadhan justru tak semakin langsing, puasanya mesti dipertanyakan.
Kan meningkatnya imtaq tidak ada hubungan dengan gemuk langsingnya umat ? Memang iya, tetapi buatku ukuran termudah sukses puasa adalah kelangsingan, urusan makin takwa saya tak berani berkomentar.

Jadi, rasanya kok ada yang salah dalam praktek puasa umat Islam, karena ritual agung itu justru mengakibatkan inflasi. Atau justru memang harus begitu ? Atau sebetulnya gak ada hubungannya ? Atau Puasa mendorong ekonomi tumbuh ?
Mohon pencerahan guru ekonomi.
ho ho ho

Salam
Ahmad Rizali

Tidak ada komentar: