Senin, 08 Juni 2009

Ibu spesial untuk anak spesial

Menjadi ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus memang tidak mudah. Namun mau tidak mau gelar ibu spesial dari anak yang spesial juga harus disandang. Begitu banyak ibu menjadi stres dan putus harapan ketika anaknya di diagnosa autis.

Melita, seorang penyandang autis berusia 15 tahun tinggal di suatu daerah yang belum terjangkau, 7 tahun yang lalu mengikuti terapi di Klinik Tumbuh Kembang Anak MUTIARA KASIH dan di sanalah ia mengalami perubahan besar.

Pada waktu TK, Melisa sulit sekali mencari dan mendapatkan sekolah yang mau menerimanya. Perilakunya sangat buruk, ia senang menyelakai diri sendiri hingga terluka, ia tidak mau melakukan kontak sosial dengan orang lain, ia senang menjilat barang atau meja yang ada di depannya, Melita pun sering menyakiti orang yang berada di lingkungan sekitarnya. Suatu hari Melisa pun datang dengan ibunya. Mata seorang ibu yang melihat penderitaan yang dialaminya terlihat seakan2 berkaca-kaca tidak kuat melihat anaknya seperti itu. Tapi satu hal yang perlu diketahui oleh ibu spesial yang memiliki anak spesial, bahwa masih ada harapan di sana, masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan.

Akhirnya,,
Melisa pun mengikuti terapi dalam masa usia pubertasnya. Namun ia dapat menjalani dengan baik. Kasih sayang ibu dan kasih sayang yang dicurahkan penuh oleh orang tua maupun terapis menjadi kunci bagi permasalahan yang dialami Melita. Dengan penanganan yang konsisten, akhirnya Melita memiliki mini market dan ia bisa menjadi little enterpreneur.

Pandanglah anak autis seperti anak normal pada umumnya dan jangan menyingkirkan mereka dari kehidupan mereka. Mereka memiliki mulut tetapi mereka tidak bisa berekspresi, akhirnya mereka marah, cuma itu cara mereka berekspresi. Mereka ingin melihat ketika diajak bicara, tetapi mereka belum mampu. So, orang tua, jangan paksakan anak ketika anak belum mampu. Jangan menumpuk stres dalam diri anak. Usahakan yang terbaik, pasti ada jalannya. Dengan kesabaran dan ketekunan, anak bisa meraih prestasi yang baik di sekolah. Pandanglah anak-anak itu dengan cinta kasih, hati yang tulus karena dengan cara itu, mereka akan kembali menjadi normal.

Keep in Spirit..
LOVE-SACRIFICE- PASSIONATE- CHEERFUL

Bunda Lucy, Psikolog Anak
Call me for free : 021 27 0707 74
0811 974993

Manusia,, Mengapa angkuh?

Orang beriman itu, menurut Alquran surat Al-Anfal ayat 2, adalah “idza dzukirallahu wajilat qulubuhum”, mereka yang apabila disebutkan nama Alloh gemetarlah hati mereka, “wa idza tuliyat alaihim ayatuhu zaadathum imanan” dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya).

Hari ini, sejatinya bukan kunjungan pertama saya ke Aceh. Sebelumnya saya sudah beberapa kali menginjakkan kaki di serambi Mekkah ini untuk urusan pekerjaan kantor. Tapi kali ini sungguh berbeda. Saya menyempatkan diri melihat-lihat bekas tsunami di Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 yang lalu.

Saat baru mendarat di bandara Aceh

Allahu Akbar.
Sungguh merinding menyaksikan kapal berbobot ribuan ton bisa berada di tengah-tengah daratan berjarak beberapa kilometer dari bibir pantai. Kala tsunami terjadi, dengan kekuasaan Allah, kapal pembangkit listrik apung itu didorong gelombang air yang dahsyat, lalu menerjang apa saja yang dilaluinya. Rumah dan bangunan hancur lebur, pepohonan tumbang, tak ada yang tersisa. Oupss... ada yang tetap berdiri kokoh beberapa meter dari kapal tersebut: sebuah masjid. Jika Allah berkehendak semua bangunan rata dengan tanah, maka itulah yang terjadi. Jikapun Allah menginginkan “rumah-Nya” tetap megah berdiri, maka itu pulalah yang terjadi. Subhanallah. .. alhamdulillah. .. Allahu Akbar.

Saya menyesal tak sempat bawa kamera tadi. Tapi saya sudah berjanji pada abang becak besok ingin kembali. Saya akan memotret kapal raksasa itu. Saya ingin menceritakannya pada anak-anak sebagai dongeng menjelang tidur mereka, agar anak-anak saya bisa membayangkan betapa kuasanya Allah, Dzat Yang Maha Perkasa. Saya juga ingin kembali besok, Insya Allah, untuk menunaikan sholat di masjid yang menjadi tanda kemurahan Allah.

Ketika sholat di masjid Nabawi di Madinah, getaran yang saya rasakan adalah saya sedang sholat diimami oleh Nabi, karena di dekat shof tempat saya berdiri terletak makam baginda yang mulia, Rasulullah SAW. Saya sudah membayangkan, ketika besok saya sholat di masjid “tsunami” itu, saya bisa merasakan bahwa kehancuran dan keselamatan itu batasnya sungguh tipis. Yaitu, jika dan hanya jika Allah menghendakinya. Perasaan yang mudah-mudahan membuat saya tak bisa lagi angkuh. Jika Alloh sudah sedemikian besar, kuat, perkasa, kita adalah makhluk yang kecil, kerdil, dan lemah, yang sama sekali tak pantas untuk sombong.

Sebelum ini mungkin banyak orang beranggapan Aceh telah dihukum Allah melalui tsunami terdahsyat. Hari ini saya percaya yang sebaliknya, justru Aceh sangat dicintai dan dikasihi Allah. Di sana terdapat banyak “monumen” tanda kekuasaan Alloh, yang jika kita melihatnya, dan kemudian sungguh-sungguh mau memikirkannya, maka kita bisa masuk dalam golongan “zaadat-hum imanan”, orang-orang yang imannya terus bertambah. Bukankah itu yang kita inginkan?

M. Ihsan Abdul Djalil

Mungkin akan ada banyak cerita di Aceh, Insya Alloh saya memuatnya di: www.mohammadihsan.com

Maksimalkan Potensi Diri

Antara manusia yang satu dengan yang lainnya memiliki sebuah perbedaan. Masing-masing kita memiliki kekhasan dalam hidup. Dalam diri kita terdapat keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, begitu pun sebaliknya orang lain memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kita.

Tugas kita saat ini adalah mencari potensi dan keunggulan pada diri kita, kemudian mengasah potensi tersebut dan menggunakannya untuk menciptakan prestasi-prestasi yang luar biasa dalam kehidupan kita.

Jangan pernah iri dengan berbagai kelebihan dan keunggulan yang dimiliki oleh orang lain, serta meratapi kekurangan yang ada pada diri anda sendiri. Tetapi lihatlah satu keunggulan yang anda miliki, setelah itu asah dan pertajam kelebihan tersebut dan buatlah karya besar dari potensi yang anda miliki tersebut.

Tidak ada seorang manusia pun yang memiliki seribu kelebihan tanpa adanya satu kekurangan,
Begitupun sebaliknya tidak ada seorang manusiapun yang memiliki seribu kekurangan tanpa adanya satu kelebihan.

Tidak ada manusia yang sempurna, semua manusia pasti memiliki kekurangan. Dan sebaliknya kendatipun banyak kekurangan dalam hidupnya, setiap manusia pasti memiliki keunggulan. Pemenang adalah orang yang mampu melihat keunggulan pada dirinya, dan memanfaatkan keunggulan tersebut secara maksimal.

Semoga kita termasuk orang2 yang bisa mensyukuri nikmat yang Allah berikan, dengan memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan.

Febriya Fajri
Trainer, Motivator & Speaker
08567574843
http://wujudkan-mimpi.blogspot.com/