(sebuah cerita)
Gadis cilik berwajah tirus. Dengan rambut keriting-ikalnya. Berpostur kurus. Tak jauh beda denganku sebenarnya.
Gadis kecil yang pintar. Selalu mendapat nilai bagus untuk tiap pelajaran. Tulisannya rapi. Semua hasil belajarnya mengagumkan. Yang pasti, dalam berhitung, jangan ditanyakan.
Semangat belajarnya sangat tinggi. Ayahnya tukang ojek yang baik hati. Dan ibunya bekerja di pabrik rokok yg kerja dari pagi hingga sore hari. Mungkin itu yang membuat Rahayu sangat mandiri.
Gadis kecil ini senang menungguiku di pinggir meja kerjaku. Bertanya banyak hal yang dia mau. Kepandaiannya tak membuatnya tinggi hati. Tetap baik pada semua temannya. Bahkan rela jadi asistenku. Dengan mengajari berhitung temannya yang belum bisa, jika melihatku sibuk dengan pekerjaanku.
Gadis kecil yang tak banyak bicara. Jika melihatku membaca, dia ikut membaca. Mengambil sebuah majalah dari tumpukan di sudut meja. Duduk di bangkunya. Dan tenggelam bersamaku dalam asyiknya membaca.
Tak banyak bicaranya kadang membuatku khawatir. Ketika suatu hari, ayahnya datang ke rumah. Dan memberitahu kalau uangnya Rahayu pernah hilang sewaktu dikelas.
Bingung. Karena di kelas itu tanggung-jawabku. Tak bisa menjawabnya. Karena aku memang tak tau. Hanya bisa minta maaf pada ayahnya. Karena tak bisa menjaga barang kepunyaan putrinya. Untunglah. Ayahnya Rahayu benar-benar orang baik. Tak marah. Malah beliaunya menitipkan pesan agar putrinya tak usah diberitau.
Tertegun. Malu. Betapa besar sayangnya orang itu pada putrinya. Dan akupun hanya bisa berjanji. Akan lebih memperhatikan kondisi di kelas, agar kejadian yang sama tak terulang kembali.
Gadis cilik yang baik hati. Tanpa kuminta, Rahayu sering meminta ijin untuk ngajari berhitung temannya yang belum bisa. Di papan tulis di depan kelas. Dan dengan riang, jika jawaban temannya benar, segera dia melaporkannya padaku.
"Bu Diana, Bayu sudah bisa Bu. Lihat!" Serunya >
Aku pun menengok dari tempatku untuk melihat hasil kerja Bayu di papan tulis. Benar. Aku pun ikut tersenyum.
"Ya. Teruskan" kataku lagi.
Mereka pun lebih semangat dalam berlatih. Meski harus berebut spidol. Berebut tempat di depan papan tulis. Semuanya berlatih dengan riang.
Rahayu yang pintar. Aleman dan penyayang. Tak segan mencium pipiku jika hendak pulang.
Rajin belajar dan tekun membaca. Giat berlatih dengan tak tergesa-gesa. Riang bermain dengan gembira.
Sampai jumpa.
Diana Dwi
Minggu, 09 Januari 2011
Doa mencari Jodoh
BEBERAPA VERSI DO'A MENCARI JODOH
1.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, Jauhkanlah. (edisi normal)
2.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, Tolong dibantu yak ! (edisi sedikit maksa)
3.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, tolong dicek lagi ! Mungkin salah baca. !! (edisi ngotot)
4.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, TER LHA LHUUU... (edisi bang rhoma irama)
5.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, tolong isi pulsa mama yaaaa. (edisi penipu)
6.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, saya hanya bisa prihatin (edisi SBY)
7.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, temennya boleh juga tuh..!! (edisi nawar)
8.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, kenapa dia ada di GOLKAR ? (edisi oposisi)
9.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, SALAH GUE ? SALAH TEMEN2 GUE.. ? (edisi AADC)
10.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, ya sudahlaaaaah..!. (edisi bondan feat2black)
11.Ya ALLAH... kalau sandal ini jodohku, lindungilah dia ! Jangan sampai dia tertukar ato hilang yaaa... (edisi Shalat Jumat)...
12. Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, ya sertifikatnya ajalah...! (edisi seminar IGI)
Salam
Satria Dharma
1.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, Jauhkanlah. (edisi normal)
2.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, Tolong dibantu yak ! (edisi sedikit maksa)
3.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, tolong dicek lagi ! Mungkin salah baca. !! (edisi ngotot)
4.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, TER LHA LHUUU... (edisi bang rhoma irama)
5.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, tolong isi pulsa mama yaaaa. (edisi penipu)
6.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, saya hanya bisa prihatin (edisi SBY)
7.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, temennya boleh juga tuh..!! (edisi nawar)
8.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, kenapa dia ada di GOLKAR ? (edisi oposisi)
9.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, SALAH GUE ? SALAH TEMEN2 GUE.. ? (edisi AADC)
10.Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, ya sudahlaaaaah..!. (edisi bondan feat2black)
11.Ya ALLAH... kalau sandal ini jodohku, lindungilah dia ! Jangan sampai dia tertukar ato hilang yaaa... (edisi Shalat Jumat)...
12. Ya ALLAH.... kalau dia jodohku, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodohku, ya sertifikatnya ajalah...! (edisi seminar IGI)
Salam
Satria Dharma
Luarrr Biasaaa
Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?”, tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke-2”, jawab ibu itu. ”Wow, hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahunya, pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.”Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang ke-2 ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita:”Anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 kerja di perkebunan di Lampung, yang ke-5 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-6 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke-7 menjadi Dosen di Semarang.”
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak ke-2 sampai ke-7. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedangkan dia cuma menjadi petani.“ Dengan tersenyum ibu itu menjawab, ”Ooo, tidak, tidak begitu nak…justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
# Pelajaran Hari Ini:
Semua orang di dunia ini penting. Buka mata, pikiran kita.
Salam
Frans Thamura
”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?”, tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke-2”, jawab ibu itu. ”Wow, hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahunya, pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.”Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang ke-2 ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita:”Anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 kerja di perkebunan di Lampung, yang ke-5 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-6 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke-7 menjadi Dosen di Semarang.”
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak ke-2 sampai ke-7. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedangkan dia cuma menjadi petani.“ Dengan tersenyum ibu itu menjawab, ”Ooo, tidak, tidak begitu nak…justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
# Pelajaran Hari Ini:
Semua orang di dunia ini penting. Buka mata, pikiran kita.
Salam
Frans Thamura
Langganan:
Postingan (Atom)