Barusan saya ngobrol dengan seorang teman kos yang juga seorang alumni ITB lulusan 77, pernah di PT Dirgantara Indonesia selama 19 tahun. Gaji dia di PT DI pernah senilai $15.000 tapi sekarang sebuah mobil pun tidak punya. Dulu dia punya banyak anak buah tapi sekarang untuk tinggal pun harus menyewa di Jakarta. Sebelumnya saya sempat beberapa kali mengobrol dengan dia, dari beberapa ceritanya saya bisa menyimpulkan kalau orang ini lebih memilih jalur yang relatif lurus dari orang-orang sekualitasnya.
Beberapa tahun yang lalu saya sempat aktif menjadi tim sukses di pemilihan ketua alumni ITB, saya bertemu dengan beberapa alumni ITB yang karena idealismenya tidak punya apa-apa, bahkan ada yang saya rasa agak sakit jiwa. Salah satunya adalah mantan pegawai negeri yang merasa muak dengan sistem yang ada lalu memilih mengundurkan diri dan yang satu lagi saya tidak paham apa yang dia kerjakan sebelumnya.
Beberapa tahun yang lalu saya juga sempat memiliki teman kos pegawai pajak lulusan STAN tahun 90-an tapi masih juga menyewa di tahun 2005 atau sekitar 15 tahun masa kerja, orang yang sangat rajin datang ke masjid dan tidak banyak omong, keluarganya masih di Surabaya, tapi nasibnya mulai membaik setelah perbaikan gaji di depkeu, dan berkat bantuan kakaknya yang bekerja di perusahaan asing, si pegawai pajak ini akhirnya memiliki rumah di Cibubur.
Beberapa tahun yang lalu saya juga bertemu dengan seorang alumni ITB yang masih mau berjuang walau telah lulus kerja dari perusahaan asing yang mapan, mau berjuang membantu salah seorang tokoh yang terkenal idealis di sebuah pergerakan. Dia memiliki sebuah usaha dan juga mengajar sebagai dosen.
Mungkin kisah mereka tidak seheroik orang-orang yang ada di KICK ANDY, mereka orang-orang idealis biasa saja akan tetapi orang-orang seperti ini cukup banyak kita jumpai di masyarakat, kemampuan dan semangat mereka mungkin tidaklah sedahsyat para perintis besar di KICK ANDY, ada yang berhasil dalam arti punya kehidupan yang layak ada juga yang harus cerai dengan istri dan tidak punya apa-apa. Kisah ini selalu berulang-ulang, ada banyak mahasiswa idealis yang tetap bisa idealis ketika bekerja tapi tidak sedikit yang hanyut dalam sistem yang korup ala indonesia. Padahal menurut saya orang-orang idealis ini adalah aset berharga bangsa, kalau seandainya mereka bisa tetap idealis hingga akhir hayat, betapa beruntungnya negara kita karena semakin memperbanyak kelas menengah yang mandiri.
Kalau saya amati dari cerita keberhasilan dan kegagalan orang-orang idealis ini ada beberapa pelajaran agar orang-orang idealis bisa tetap idealis :
1. Pilih tempat kerja yang tepat
Perusahaan asing terutama barat punya budaya yang bagus untuk memelihara idealisme. Tapi sekarang juga ada perusahaan swasta lokal yang punya budaya serupa walau masih sedikit. Bagi yang suka mengembangkan orang, pilihan menjadi guru atau dosen juga bukan pilihan buruk karena gaji guru dan dosen sekarang mulai menarik. Teman saya yang bekerja sebaga pekerja sosial di NGO asing juga punya gaji yang cukup untuk membayar pendidikan S2-nya di UI yang terkenal mahal.
2. Gaya hidup yang terkendali
Banyak kasus ketika seorang idealis bekerja di tempat yang tepat tapi tetap lupa dengan idealismenya karena penyakit OKB (Orang Kaya Baru), tiba-tiba punya aktivitas konsumsi berlebihan ketika banyak uang. Saya lihat orang-orang tetap mempertahankan idealismenya cukup pintar mengatur keuangannya untuk masa depannya.
3. Pasangan hidup yang tepat
Ada kalanya seseorang sudah punya tempat dan gaya hidup yang kondusif tapi masih gagal mempertahankan idelismenya karena faktor pasangan hidup yang tidak tepat, ada banyak kasus orang menjadi lupa daratan karena anjuran pasangan. Banyak yang jatuh karirnya karena kebiasaan belanja pasangan yang berlebihan.
Ada masukan ?
Salam
Rulan Kis
Rabu, 17 November 2010
Negara Tak Boleh Kalah Lawan Gayus
Aliksah seorang narapidana bernama Anton Medan. Di sel tahanan yang dingin di LP Cipinang, ia mengaku sempat mempunyai anak. Ia melakukan hubungan suami isteri secara diam-diam dengan menyewa ruangan para petugas. Maka, bisnis seks saat itu bukan barang gelap lagi. Setiap nafsu terlayani walau sesaat di ruang-ruang para petugas sipir penjara atau malah ruangan kepala Lapas.
Sejak itu, kisah bisnis seks di penjara terus terjadi. Tidak hanya sang isteri yang menjenguk dan dijadikan pelampiasan nafsu, WTS pun sering kali disewa di sana. Para napi narkoba yang berkewarganegaraan asing biasanya menggunakannya. Seorang napi yang dikenal public juga dikabarkan berkencan dengan koleganya di kamar khusus di atas sofa yang dingin. Setiap ada uang, semua kebutuhan di penjara bisa terjamin.
Dan begitulah ketika Gayus Tambunan memakai uangnya untuk urusan rehat. Dia tak hanya bisa pulang ke rumah dan mengencani isterinya, tetapi dia juga bisa plesiran. Penghuni Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat yang ada di sini tak hanya Gayus. Besan Presiden SBY Aulia Pohan juga pernah menginap di sini. Juga Susno Duadji, mantan Kabareskrim, sampai sekarang juga ditahan di sini. Susno juga diduga bisa keluar masuk dengan enteng. Bagaimana Aulia Pohan?
Jika yang lain bisa, kemungkinan besar, Aulia Pohan juga bisa keluar masuk sesukanya. Asal ada uang, Rutan Mako Brimob bisa dibeli dan dipesan kapan saja dan oleh siapa saja. Tak percaya, lihatlah kasus terpidana teroris Bom Bali Ali Imron juga bisa keluar masuk sesukanya. Ia bahkan pernah kongkow-kongkow di Starbuck Café Thamrin Jakarta bersama pejabat Densus 88. Ali Imron yang tubuhnya makin tambun dan tampak sumringah itu tidak pernah mengigil di teralis penjara. Apa saja bisa dilakukannya. Termasuk jalan-jalan dan kongkow-kongkow seperti di Starbuck itu. Maka rumah tahanan dan penjara seperti bukan lagi sarang penyamun bagi kalangan berduit.
Kini, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengusulkan dibuat ruang khusus seks di setiap penjara di Indonesia. Usulan ini dilandasi alasan kemanusiaan. Sebab, napi juga manusia yang harus diperhatikan masalah yang sangat manusiawi yakni kebutuhan seksnya.
Sekilas usulan ini baik. Tetapi sejatinya tidak tepat. Usulan ini sering dimunculkan dengan beragam argument kemanusiaan. Justru di sinilah pentingnya penjara. Setiap orang di lapas merupakana orang-orang yang dikekang kebebasannya, dirampas kebebasannya. Mereka dalam rangka menjalani hukuman atas perbuatan bejat yang dilakukannya. Aparat keamanan dan Negara diberi kewenangan untuk merampas kebebasan orang-orang jahat itu dan Negara memasukkanya ke penjara. Di dalam penjara mereka betul-betul dikekang kebebasannya, tidak boleh melakukan kegiatan di luar aturan. Di situlah sejatinya aturan itu ditegakkan.
Dengan dirampas kebebasannya, kita berharap para napi akan sadar, jera dan tidak lagi melakukan perbuatan kejinya. Dengan dikekang kebebasannya dan hak-haknya, para napi diharapkan bisa menjadi orang baik-baik ketika kembali ke masyarakat. Ironisnya, semua kewenangan untuk merampas kebebasan dan mengekas kebebasan itu justru diperjualbelikan oleh petugas dan pejabat rumah tahanan dan Lapas.
Tidak boleh ada ruangan khusus sesks di dalam penjara. Aturan ini ditegakkan agar napi menjadi jera dan tak melakukan perbuatan jahatnya. Juga tidak boleh petugas menjualbelikan aturan ini demi uang dan harta lainnya. Di sinilah kita diuji apakah kita bisa menegakkan aturan, kuat dan tegas melawan mafia kejahatan yang juga masuk ke dalam rutan dan penjara. Kita harus kuat. Kita harus tegas terhadap setiap kejahatan dan setiap pelaku pelanggaran hukum. Kita tidak boleh kalah dengan mereka. Negara juga tidak boleh menjadi impoten terhadap para mafioso kejahatan ini.
Best Regards,
Mahmuddin
Sejak itu, kisah bisnis seks di penjara terus terjadi. Tidak hanya sang isteri yang menjenguk dan dijadikan pelampiasan nafsu, WTS pun sering kali disewa di sana. Para napi narkoba yang berkewarganegaraan asing biasanya menggunakannya. Seorang napi yang dikenal public juga dikabarkan berkencan dengan koleganya di kamar khusus di atas sofa yang dingin. Setiap ada uang, semua kebutuhan di penjara bisa terjamin.
Dan begitulah ketika Gayus Tambunan memakai uangnya untuk urusan rehat. Dia tak hanya bisa pulang ke rumah dan mengencani isterinya, tetapi dia juga bisa plesiran. Penghuni Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat yang ada di sini tak hanya Gayus. Besan Presiden SBY Aulia Pohan juga pernah menginap di sini. Juga Susno Duadji, mantan Kabareskrim, sampai sekarang juga ditahan di sini. Susno juga diduga bisa keluar masuk dengan enteng. Bagaimana Aulia Pohan?
Jika yang lain bisa, kemungkinan besar, Aulia Pohan juga bisa keluar masuk sesukanya. Asal ada uang, Rutan Mako Brimob bisa dibeli dan dipesan kapan saja dan oleh siapa saja. Tak percaya, lihatlah kasus terpidana teroris Bom Bali Ali Imron juga bisa keluar masuk sesukanya. Ia bahkan pernah kongkow-kongkow di Starbuck Café Thamrin Jakarta bersama pejabat Densus 88. Ali Imron yang tubuhnya makin tambun dan tampak sumringah itu tidak pernah mengigil di teralis penjara. Apa saja bisa dilakukannya. Termasuk jalan-jalan dan kongkow-kongkow seperti di Starbuck itu. Maka rumah tahanan dan penjara seperti bukan lagi sarang penyamun bagi kalangan berduit.
Kini, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengusulkan dibuat ruang khusus seks di setiap penjara di Indonesia. Usulan ini dilandasi alasan kemanusiaan. Sebab, napi juga manusia yang harus diperhatikan masalah yang sangat manusiawi yakni kebutuhan seksnya.
Sekilas usulan ini baik. Tetapi sejatinya tidak tepat. Usulan ini sering dimunculkan dengan beragam argument kemanusiaan. Justru di sinilah pentingnya penjara. Setiap orang di lapas merupakana orang-orang yang dikekang kebebasannya, dirampas kebebasannya. Mereka dalam rangka menjalani hukuman atas perbuatan bejat yang dilakukannya. Aparat keamanan dan Negara diberi kewenangan untuk merampas kebebasan orang-orang jahat itu dan Negara memasukkanya ke penjara. Di dalam penjara mereka betul-betul dikekang kebebasannya, tidak boleh melakukan kegiatan di luar aturan. Di situlah sejatinya aturan itu ditegakkan.
Dengan dirampas kebebasannya, kita berharap para napi akan sadar, jera dan tidak lagi melakukan perbuatan kejinya. Dengan dikekang kebebasannya dan hak-haknya, para napi diharapkan bisa menjadi orang baik-baik ketika kembali ke masyarakat. Ironisnya, semua kewenangan untuk merampas kebebasan dan mengekas kebebasan itu justru diperjualbelikan oleh petugas dan pejabat rumah tahanan dan Lapas.
Tidak boleh ada ruangan khusus sesks di dalam penjara. Aturan ini ditegakkan agar napi menjadi jera dan tak melakukan perbuatan jahatnya. Juga tidak boleh petugas menjualbelikan aturan ini demi uang dan harta lainnya. Di sinilah kita diuji apakah kita bisa menegakkan aturan, kuat dan tegas melawan mafia kejahatan yang juga masuk ke dalam rutan dan penjara. Kita harus kuat. Kita harus tegas terhadap setiap kejahatan dan setiap pelaku pelanggaran hukum. Kita tidak boleh kalah dengan mereka. Negara juga tidak boleh menjadi impoten terhadap para mafioso kejahatan ini.
Best Regards,
Mahmuddin
Minggu, 07 November 2010
Arti hidup bagi Anda?
Pernahkah Anda merasa sangat jenuh, bosan dan sebagainya sehingga malas bekerja, belajar, beraktivitas?
Pernahkah Anda begitu 'merindukan' hari libur dan 'membenci' hari Senin?
Pernahkah Anda (bagi yang sudah bekerja), frustasi karena tidak juga naik gaji, pangkat atau jabatan?
Pernahkah Anda mendapat tugas tambahan dan membuat Anda merasa terbebani?
Jika jawaban Anda SERING, maka Anda perlu merenungi arti hidup ini.
Saya dua pekan terakhir mengalami hal tersebut dan menemukan jawabannya dari slide Pak Rama Royani yang diringkas sebagai berikut :
Manusia memaknai hidupnya ada 3 kelompok yaitu hidup sebagai pekerjaan, karir dan panggilan. Tiap kelompok tersebut dibagi atas 4 kategori yaitu : motivasi, bekerja sebagai, harapan, mencari. Mari kita lihat satu persatu.
1. Hidup sebagai PEKERJAAN maka :
- MOTIVASI : gaji, bayaran
- BEKERJA SEBAGAI : kebutuhan hidup
- HARAPAN : NAIK GAJI
- MENCARI : Liburan Akhir Pekan
2. Hidup sebagai KARIR
- MOTIVASI : uang dan kemajuan
- BEKERJA SEBAGAI : perlombaan
- HARAPAN : kekuasaan dan kebanggaan
- MENCARI : promosi
3. Hidup sebagai PANGGILAN
- MOTIVASI : amanat, perintah Allah
- BEKERJA SEBAGAI : khalifah, utusan Allah
- HARAPAN : dunia yang lebih baik
- MENCARI : lebih banyak tugas
Jika Anda memandang hidup hanya sebagai PEKERJAAN, maka akan sulit melakukan aktivitas dengan ENJOY (enak), EASY (enteng), EXCELLENT (edun) dan EARN (untung). Beraktivitas dengan penuh kebosanan, tanpa semangat, menunggu akhir pekan agar bisa liburan. Hidup menjadi kurang bermakna, hanya berputar dari satu aktivitas ke aktivitas lain yang rutin dan membosankan.
Jika Anda memandang hidup sebagai KARIR, maka Anda bisa melakukan aktivitas dengan ENJOY (enak), EASY (enteng), EXCELLENT (edun) dan EARN (untung). Hanya masalahnya, jika tidak mendapatkan kekuasaan dan kebanggaan seperti jabatan, popularitas, maka Anda bisa juga frustasi dan stress. Merasa kurang dihargai.
Yang sangat baik adalah memandang hidup sebagai PANGGILAN. Kita diciptakan Allah sebagai khalifah, utusan-Nya untuk membuat dunia lebih baik. Segala yang kita lakukan bermakna dan kita maknai sebagai ibadah dan pengabdian kepadaNya. Sehingga mendapat tugas tambahan, bukan sebagai beban tapi kesempatan untuk beramal lebih baik dan lebih banyak. kesempatan untuk berbagi dan memberi manfaat untuk manusia dan lingkungan.
semoga bermanfaat...
Mohammad Ihsan
Pernahkah Anda begitu 'merindukan' hari libur dan 'membenci' hari Senin?
Pernahkah Anda (bagi yang sudah bekerja), frustasi karena tidak juga naik gaji, pangkat atau jabatan?
Pernahkah Anda mendapat tugas tambahan dan membuat Anda merasa terbebani?
Jika jawaban Anda SERING, maka Anda perlu merenungi arti hidup ini.
Saya dua pekan terakhir mengalami hal tersebut dan menemukan jawabannya dari slide Pak Rama Royani yang diringkas sebagai berikut :
Manusia memaknai hidupnya ada 3 kelompok yaitu hidup sebagai pekerjaan, karir dan panggilan. Tiap kelompok tersebut dibagi atas 4 kategori yaitu : motivasi, bekerja sebagai, harapan, mencari. Mari kita lihat satu persatu.
1. Hidup sebagai PEKERJAAN maka :
- MOTIVASI : gaji, bayaran
- BEKERJA SEBAGAI : kebutuhan hidup
- HARAPAN : NAIK GAJI
- MENCARI : Liburan Akhir Pekan
2. Hidup sebagai KARIR
- MOTIVASI : uang dan kemajuan
- BEKERJA SEBAGAI : perlombaan
- HARAPAN : kekuasaan dan kebanggaan
- MENCARI : promosi
3. Hidup sebagai PANGGILAN
- MOTIVASI : amanat, perintah Allah
- BEKERJA SEBAGAI : khalifah, utusan Allah
- HARAPAN : dunia yang lebih baik
- MENCARI : lebih banyak tugas
Jika Anda memandang hidup hanya sebagai PEKERJAAN, maka akan sulit melakukan aktivitas dengan ENJOY (enak), EASY (enteng), EXCELLENT (edun) dan EARN (untung). Beraktivitas dengan penuh kebosanan, tanpa semangat, menunggu akhir pekan agar bisa liburan. Hidup menjadi kurang bermakna, hanya berputar dari satu aktivitas ke aktivitas lain yang rutin dan membosankan.
Jika Anda memandang hidup sebagai KARIR, maka Anda bisa melakukan aktivitas dengan ENJOY (enak), EASY (enteng), EXCELLENT (edun) dan EARN (untung). Hanya masalahnya, jika tidak mendapatkan kekuasaan dan kebanggaan seperti jabatan, popularitas, maka Anda bisa juga frustasi dan stress. Merasa kurang dihargai.
Yang sangat baik adalah memandang hidup sebagai PANGGILAN. Kita diciptakan Allah sebagai khalifah, utusan-Nya untuk membuat dunia lebih baik. Segala yang kita lakukan bermakna dan kita maknai sebagai ibadah dan pengabdian kepadaNya. Sehingga mendapat tugas tambahan, bukan sebagai beban tapi kesempatan untuk beramal lebih baik dan lebih banyak. kesempatan untuk berbagi dan memberi manfaat untuk manusia dan lingkungan.
semoga bermanfaat...
Mohammad Ihsan
Langganan:
Postingan (Atom)