Selasa, 10 Agustus 2010

Mewujudkan Mimpi Dari Kursi Roda

(sebuah renungan cerita)

+ "Saya butuh Anda di sana, Anda bisa melakukannya?
- "Saya pikir bisa, Pak."
+ "Oke, see you there!"

Percakapan itu terus di ingat oleh Handry Satriago. Inilah tantangan besar yang mesti diatasi untuk mencapai mim pinya: bepergian ke luar negeri. Paspor yang dibuatnya semasa masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Labschool Rawamangun pada 1986 akhirnya terisi stempel Imigrasi untuk pertama kalinya sebelas tahun kemudian. Singapura menjadi negeri pertama yang harus didatangi Handry sebagai Manajer Pengembangan Bisnis General Electric (GE) Indonesia.

"Kepercayaan Stu yang membuat saya yakin bisa," ujar Handry tentang permintaan Stuart Dean, Presiden GE ASEAN. Keterbatasannya langsung diatasinya saat naik burung besi menuju negeri di utara Pulau Sumatera itu. Sejak itu, meski duduk di atas kursi roda, dia sudah mengunjungi berbagai negara, termasuk Amerika Serikat markas GE, hingga diangkat sebagai Presiden General Electric Indonesia. "Semua ditunjukkan Yang Di Atas," katanya tanpa kesan merendah.

Tiga belas tahun di perusahaan raksasa Amerika itu, Handry menjadi seorang motivator dan pebisnis ulung. Hampir semua yang dipegangnya menjadi bisnis yang ditakuti oleh pesaingnya. Misalnya, di bisnis lighting (pencaha yaan), dia menghasilkan US$ 6 juta dalam dua tahun kepemimpinannya. Sebelumnya di GE tak ada yang melirik bidang itu, karena dianggap tak prospektif karena dikuasai Philips.

Putra tunggal pasangan Djahar Indra dan Yurnalis Indra itu menyanggupi tantangan membuat lighting menjadi bisnis sendiri, terpisah dari consumer goods. Hasilnya, antara lain, tata cahaya di Bandar Udara Ngurah Rai dan siraman cahaya ke Candi Prambanan.

Dia merintis ide bisnis menjual paket cahaya dengan kontrak jangka panjang dengan sejumlah pabrik besar dan kecil kimia, cat, dan tekstil. "Anda santai saja, tata cahaya efisien kami yang urus," ujarnya.

Ketika menerima tantangan dari Stuart, nilai tukar rupiah terhadap dolar terjun bebas dari Rp 2.500 menjadi Rp 15 ribu. "Ketika sign kontrak, masih Rp 2.500. Saat barang datang tiga kontainer, jadi Rp 15 ribu." Kontan, para pelanggannya di Glodok menolak barang itu. Tak menyerah, Handry membujuk mereka membuat kontrak jangka panjang, menjual barang tersebut dengan separuh nilai tukar.

Dengan cara itu, dia memotivasi tim yang terdiri atas orang-orang muda bahwa solusi bisa diperoleh di tengah kesulitan. "Mereka juga antusias karena diberi kepercayaan," ujarnya. Inilah praktek kepercayaan pemimpin dengan pengikutnya yang menjadi resep andalannya. Selanjutnya, cerita sukses berlanjut ketika dia diminta memimpin bisnis di bidang energi. Dari 25 gigawatt listrik yang terpasang di Indonesia, 500 megawatt adalah karyanya. "Bangga juga, ha-ha-ha...," Handry melepas tawa.

Sambil merangkul Basri Adhi, Handry menapaki satu per satu tangga kampus Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Karibnya itu, dan kawan kuliah lain, setia membopong Handry yang kedua kakinya dipasangi besi penopang supaya bisa berjalan tegak dengan kruk. Tujuan mereka: Laboratorium Gambar Teknik di lantai empat.

"Ya, berat, he-he-he...," kata Basri. Satu teman lagi mengangkut kursi rodanya. Mereka teman sekelas Handry, selalu senang dengan Agogo pang gilannya kala kuliah yang memberikan energi positif untuk terus berjuang dan ceria dalam hidupnya. Begitu terus sejak 1989, sampai 1993 Handry menyelesaikan kuliahnya. Skripsinya diganjar predikat sangat memuaskan.

Di SMA Labschool Rawamangun, Riri Riza, sutradara film Laskar Pelangi, ingat pertama kali karibnya itu masuk sekolah lagi setelah absen lebih dari sebulan. Dengan penyangga kaki, Handry terlihat santai dan berlaku seperti orang normal. "Sama sekali enggak berubah, enggak minder, enggak kelihatan sedih, dan masih nongkrong bareng kami," kata Riri. Saat itu, di usia 17 tahun, Handry didiagnosis kena kanker getah bening di sumsum tulang belakangnya dan mesti dioperasi.

Teman-teman satu kelompok bermain memperlakukan Handry seperti orang normal, dengan pembicaraan yang tak pernah membuat Handry tersinggung dengan keadaannya. Ketika nonton teater bareng, mereka menggotong Handry untuk masuk gedung teater.

Riri sejak awal sudah yakin, keterbatasan berjalan tak akan menghala ngi pria berdarah Minang itu beraktivitas. "Sejak awal dia itu masuk jalur cepat, selalu selesai kelas lebih awal." Di Labschool dia termasuk "siswa yang dibayar". "Karena prestasinya bagus banget." Maklum, saat itu sekolah tersebut menjadi percontohan siswa berbakat dan buat yang mampu secara ekonomi.

Kesederhanaan ekonomi Handry, yang ayahnya cuma pegawai logistik Total Indonesia, tak tampak dalam pergaulan. Wawasan Handry terbilang luas. Dia mampu bicara tentang musik rock dan metal yang sedang booming, sambil bicara klasik dan pop. "Waktu itu, baru dia yang paham Simon & Garfunkel, he-he-he...."

Dia menilai cuma sedikit orang yang seimbang hasrat main dan hobi bela jarnya seperti Handry. Perbincang an dengannya terentang dari rencana madol alias bolos sekolah sampai membuat proyek ilmiah. Bicara dengan Handry, kata Riri, "Penuh warna kehidupannya."

Solidaritas dan perlakuan sama dengan orang normal membuat Handry nyaman. "Teman-teman membuat saya percaya diri,"katanya. Kondisi itu menumbuhkan semangatnya melawan keterbatasan.

Di lingkungan rumahnya, Handry bertetangga dengan pentolan pers Indonesia, Atmakusumah Sastraatmadja, Goenawan Mohamad, dan budayawan Umar Kayam. "Saya beruntung tetangga saya orang-orang hebat." Sejak di sekolah menengah pertama, di kompleks Griya Wartawan, Kebon Nanas, Jakarta Timur, wawasan seni dan sosial politiknya ditempa karya-karya seni klasik dan pop, serta sastra kritis, dari Shakespeare sampai Pramoedya Ananta Toer. Buku dan diskusi didapatnya di rumah Atma dan Umar Kayam.

Di sana dia juga mengenal teater dan musik klasik. "Anak-anak kami sudah menganggapnya kakak, dan ini sudah seperti rumahnya sendiri," ujar Atma. Handry suka sekali gulai kambing masakan Sri Rumiati, istri Atmakusumah.

Penggemar Meryl Streep itu selalu dibopong ketiga putra Atma ke lantai dua Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Di gedung teater itu, mereka nonton drama, misalnya Teater Koma.

Lantaran pengaruh pers yang kental, Handry sempat tergiur menjadi wartawan. "Ikut karnaval, saya pakai rompi, bawa kamera, kayak wartawan, deh," kata pengagum Syahrir itu.

Selepas kuliah, dia direkrut sebuah perusahaan teknologi mengurus majalahnya. Tiga tahun menabung hasil kerjanya, dia sekolah lagi di Institut Pengembangan Manajemen Indonesia Business School, dan lulus cum laude dengan dua gelar master. Sambil kuliah, dia membuka usaha desain grafis dengan kawan-kawan dan saudaranya.

Predikat itu membuatnya dibujuk pencari bakat dari General Electric untuk masuk ke perusahaan tersebut. "Saya tolak. Ngapain? Saya punya bisnis sendiri, kok." Maklum, bisnisnya sedang maju pesat. Sang pencari bakat tak menyerah, sambil menerangkan segala macam fasilitas yang bisa didapatkannya. Segala fasilitas dan perjalanan keluar negeri membuatnya kepincut. Posisi pertamanya Manajer Pengembangan Bisnis GE Indonesia. Dia mematok target menjadi Jack Welch, CEO GE.

Tiga belas tahun kemudian, dalam perjalanan ke Vietnam untuk urusan bisnis energi pembangkit listrik, dia ditawari posisi Presiden GE Indonesia. Jadilah pria kelahiran Riau, 13 Juni 1969, itu pemimpin termuda di perusahaan raksasa Amerika tersebut. Seka ligus lu lusan sekolah dalam negeri pertama yang menjadi bos GE Indonesia.

Menjadikan Abraham Lincoln sebagai inspirator, Handry dikenal pantang menyerah. Pada 1994, meski menjalani kemoterapi karena kankernya ternyata menjalar ke pinggang dia tetap tegar. "Saya selama ini dikasih jalan sama Dia."

Juga saat Maret 2010 diketahui tulang belakangnya ada kelainan, fisiknya merasa sehat. Bedanya, kali ini suami Dinar Sambodja itu selama tiga pekan, selalu khawatir secara psiko logis karena ada saja yang tak lancar, dokter tak ada, atau pembaca hasil la boratorium absen.

Mengubur keinginan menjadi ilmuwan dari Stanford University, Handry tetap tertarik pada bidang akademik. Dua pekan lalu dia meraih gelar doktor di bidang manajemen dengan disertasi tentang efek kepercayaan orang sekitar terhadap peningkatan kualitas pemimpin. Dia meruntuhkan keangkeran ruang sidang doktoral yang biasanya tanpa canda. "Semarak, dia memang biasa bergurau," kata Riri, yang hadir dalam sidang doktornya di Universitas Indonesia.

(bersambung)

Minggu, 08 Agustus 2010

Froggy

(sebuah inspirasi)

Kalau tak ada perubahan, akhir 2011, masyarakat Indonesia dapat menyaksikan
sebuah floatingcastle yang berdiri megah di salah satu sudut Kota BSD, Tangerang.
Kastil itu menakjubkan, indah seperti yang sering kita lihat di negeri impian.
Sebuah impian yang terus mengikuti seorang anak hingga dia tumbuh menjadi
dewasa, membantu orang tuanya dalam bisnis, sampai dia menjadi pengusaha dan
melakukan pembaruan. Fernando Iskandar, 29 tahun, menamakan kastil indah itu
sebagai Froggy. Di situ dia menanamkan impiannya yang berawal dari cerita-cerita
yang dibaca dari buku-buku bergambar bacaan anak-anak.

Sebuah gambar kastil yang dia sukai digunting, ditempel di lemari pakaian, di
pintu kamar, dan dibawanya hingga ke kamar mandi. Namun lebih dari sekadar
impian, dia pun bertindak. Seluruh uang tabungannya dari usaha-usaha yang dia
rintis sebelumnya, dia tanam di Froggy. Dia mendekati Kak Seto dan menemui saya.
Dia mencari tanah yang cocok dan menemukan arsitek kelas satu yang bisa
menerjemahkan isi kepalanya.

Menelusuri Bakat

Adalah Jimmy Iskandar, orang tua yang hari itu penuh bahagia. Senin, 2 Agustus
2010, dia baru saja mengerti apa yang dilakukan putranya. Sejak era 1970-an
Jimmy dikenal sebagai orang yang sangat ulet membangun usaha fotografi. Berkat
ketekunannya itu dia berhasil memperkenalkan foto di atas kanvas yang amat
diminati tokoh-tokoh masyarakat. Setiap kali saya mendatangi studionya,saya
selalu menemukan foto-foto keluarga terkenal yang memilih difoto oleh Jimmy dan
fotografer-fotografer andalannya di Tarzan Foto Studio.

Bahkan Tarzan Foto pula yang dipercaya Istana Negara untuk memotret kepala-kepala negara yang berkunjung ke Indonesia. Mereka harus memotret secara sempurna dalam batasan waktu yang sangat terbatas. Tentu saja Fernando dibesarkan dalam lingkungan fotografi yang sangat kental. Bedanya dia kini hidup di dunia digital yang serba cepat dan kaya bakat. Saat krisis menimpa Indonesia, dia pun tersadarkan, dia mencari mentor ke sana kemari sampai dia bertemu dengan pengusaha perempuan yang progresif, Dewi Motik.

Dia pun nyantrik (berguru), mengikuti Ibu Dewi Motik ke mana-mana, melihat bagaimana keputusan bisnis diambil. Dia menemukan sebuah dunia baru. “Di rumah saya yang lama, saya begitu besar sehingga dunia saya tampak kecil. Di luar, saya melihat dunia itu begitu besar sehingga diri saya tampak begitu kecil,”ujarnya. Bak katak yang hidup keenakan di dalam tempurungnya dia pun keluar dari zona nyaman itu. Dia meronta.

Dia pun berkenalan dengan dimensi-dimensi yang lebih luas. Dari Kak Seto, dia
belajar hal baru lagi, yaitu soal talenta anak-anak Indonesia yang terkurung dalam ambisi orang lain. Dia pun menemukan fakta-fakta yang mengejutkan dari teman-teman di sekitarnya. Banyak orang tersesat di rimba belantara antara bakat, sekolah, dan pekerjaan. Bakatnya A, sekolahnya C, dan kerjanya E. Semuanya tidak saling berhubungan. Maka sia-sialah sekolah.

Tak pernahkah Anda melihat seorang anak berbakat melukis bersusah payah kuliah
menjadi akuntan, dan saat bekerja dia lebih senang menjadi orang kreatif di biro
iklan, namun istrinya mendesak agar menekuni profesinya sebagai akuntan. Tak
banyak orang yang menyadari bahwa untuk berhasil seseorang harus memilih apa
yang terbaik dari hidupnya. Bukankah lebih baik menjadi pelukis yang luar biasa
daripada menjadi dokter atau akuntan yang biasa-biasa saja? Apakah kita menyadari hal ini?

Di era materialisme seperti saat ini orang lebih berani mengikuti arus daripada
keluar dengan kekuatan dirinya. Semua ingin cepat-cepat menghasilkan ketimbang
melakukan investasi pada bakatnya. Di sisi lain, kita menemukan orang-orang sukses
abad ini ternyata terdiri atas orang-orang yang berani menantang arus besar itu,
hidup sebagai outlier yang keluar dari kotaknya. Kak Seto menyambung.

”Apa jadinya bila seorang Albert Einstein yang senang matematika, sedari kecil
dipaksa orang tuanya mengikuti American Idol? Atau apa jadinya kalau Picasso
yang suka melukis dianggap bodoh karena tak senang matematika? Demikian juga
dengan Michael Angelo yang senang membuat patung namun dipaksa orang tuanya
menjadi dokter?” Dari kajian-kajian yang ada mengenai talenta, sekarang jelaslah
bahwa pendidikan yang menyamaratakan dapat mematikan telenta.

Seperti rumput yang dipangkas sama tingginya, anak-anak yang dilahirkan dengan
talenta yang berbeda berteriak. Mereka hidup tertekan, tidak bisa berbicara lain
selain ikut maunya orang-orang dewasa. Mereka hidup dalam pasungan dan terkungkung dalam kesulitan. Dapat dibayangkan hari tua anak-anak yang dibesarkan dalam kurungan bakat yang demikian adalah hari tua yang kering, melakukan apa yang tidak diinginkan. Hari-hari tidak bahagia, tanpa senyum, penuh keluhan.

Edutography

Lantas apa hubungannya antara kastil Froggy dengan bakat tadi? Inilah yang disambung Froggy dalam konsep ”edutography”, yang memadukan kombinasi education,
entertainment, dan photography. Berbeda dengan Tarzan Photo yang memotret foto
kenangan, Froggy justru memotret masa depan. Froggy menggali bakat anak-anak
dengan pendekatan multidimensi sampai ditemukan apa yang sesungguhnya menjadi
lentera jiwa mereka.

Pekerjaan ini menjadi tanggung jawab Kak Seto. Lebih dari itu, bakat-bakat itu
perlu digerakkan, saya sendiri termasuk orang yang sangat berhati-hati dalam
memandang bakat. Maklum saja generasi saya adalah generasi yang terkurung, sulit
meletupkan energi-energi yang terpancar dari bakat yang merupakan pemberian
Tuhan. Bagi orang segenerasi saya, bakat hanyalah sekadar potensi belaka.

Jadi apalah artinya mengenal bakat kita kalau potensi itu gagal “menemukan pintunya?” Tetapi bagi anak-anak saya, sejalan dengan kemajuan dalam temuan-temuan baru dan teknologi digital, saya pun mendukung eksplorasi yang tiada henti terhadap talenta-talenta hebat yang terpendam di hati paling dalam anak-anak Indonesia. Lebih dari sekadar mengeksplorasi, anak-anak itu harus ditumbuhkan myelin-nya agar mereka tidak diam di tempat, melainkan terus bergerak mencari dan menemukan pintunya.

Mereka harus menyentuh, bahkan mendobrak pintu-pintu itu. Temuan-temuan terbaru
di dunia digital, dibantu para pendidik terdepan,mestinya bisa membantu anak-anak itu mengembangkan mimpi-mimpinya. Pada Froggy saya menaruh harapan agar anak-anak kita mampu menemukan potensi dan menggapai pintu masa depan dengan bahagia.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Kehormatan Guru

Orang awam menyebut guru sebagai kepanjangan digugu dan ditiru. Otomatis, ucapan dan nasihatnya digugu. Sedangkan sikap, perilaku, dan tindakannya akan ditiru. Dengan demikian, guru diharapkan menjadi teladan bagi para muridnya.

Karena itu, tak mudah menjadi guru. Bahkan, menurut saya, guru adalah salah satu sosok yang perfeksionis. Maksudnya, tugas dan tanggung jawab seorang guru sangat besar. Kemajuan suatu bangsa pun bisa ditentukan oleh peran vital seorang guru dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas.

Dengan tuntutan yang sedemikian berat itu, sudah pasti seseorang harus bijak dan serius jika hendak menempuh jalan hidup sebagai guru. Menjadi guru tidak boleh asal-asalan. Lebih dari itu, jangan menjadikan profesi guru sebagai sebuah pelarian.

Faktanya, sejak sertifikasi diterapkan pemerintah, banyak hal kebablasan. Banyak orang tertarik terjun ke dunia guru. Ini mungkin positif, mengingat Indonesia memang membutuhkan banyak guru andal. Masalahnya, tak sedikit yang menjadikan profesi mulia itu sebagai pelarian.

Besarnya gaji guru PNS plus tunjangan pendidik (TPP) cukup menggiurkan. Namun, hal itu belum diimbangi kesadaran akan kompetensi dan kemampuan. Salah satu kebablasan yang nyata adalah banyaknya guru yang membuat karya tulis jiplakan demi lupus sertifikasi. Bahkan, di Riau, pangkat sekitar 1.700 guru golongan 3B diturunkan menjadi 3A karena kasus itu (JPNN, 31/1/2010).

Pemerintah sebenarnya bukan tanpa tindakan tegas. Buktinya, guru disyaratkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya. Salah satunya, mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan kompetensi tenaga pendidik.

Di luar itu, pemerintah gencar mengampanyekan pendidikan karakter. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kasus yang bisa mencoreng dunia pendidikan. Misalnya, kekerasan di lingkungan sekolah, pelecehan seksual, kasus tindakan mesum, dan lain-lain yang bertentangan dengan norma agama dan masyarakat.

Senyampang dengan tema tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah pesan bagus yang diambil dari sebuah tulisan Abdullah Munir, penulis buku best seller Spiritual Teaching. Yakni, seorang kuli bangunan boleh saja membeli bakso dan menyantapnya di trotoar. Namun, seorang guru tidak boleh melakukan hal demikian. Sebab, dia harus menjaga muruah (kehormatan/ nama baik) sebagai guru.

Saya terkesan dengan pesan itu. Tidak hanya pada substansinya, tapi juga contoh yang diberikan. Guru tidak hanya harus amanah. Lebih dari itu, guru pun semestinya dapat menjaga kehormatan dan nama baik profesi mulia yang diembannya tersebut.

Memang, tidak ada yang melarang guru untuk makan bakso di trotoar atau sekadar merokok di luar sekolah. Kendati demikian, muruah sebagai guru mesti dikedepankan. Pasalnya, segala ucapan dan tindakannya bakal dicontoh oleh anak didiknya. Bisa dibayakan bila murid melihat sang guru merokok. Tentu si murid bisa saja mencari pembenar apabila dia ikut-ikutan merokok seperti gurunya.

Jelas sudah, menjadi guru benar-benar tidak mudah, tidak boleh main-main. Salah satu hal yang bisa dirasakan membatasi adalah menjaga muruah (nama baik) sebagai guru. Sebagaimana pepatah ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, tindak tanduk guru bukan tidak mungkin bakal dicontoh oleh sang murid. Maka, menjaga kehormatan guru adalah keharusan, tanpa pamrih apa pun.

Di belakang murid hebat, selalu ada guru hebat...dan terhormat...

Salam
Eko Prasetyo