(HumoR)
Seorang mahasiswi seksi yang terancam gagal ujian mendatangi kantor dosennya yang masih muda. Dia melirik ke sekililingnya sebentar, menutup pintunya, dan langsung berlutut di hadapan sang dosen sambil memohon.
"Pak Dosen, Saya bersedia melakukan apapun juga agar lulus ujian….", ujarnya sambil melirik genit.
Lalu sang mahasiswi mendekat ke arah dosennya, menyibakkan rambutnya, menatap matanya penuh arti. "Kalau Bapak masih belum mengerti maksud saya…" bisiknya, "Saya bersedia melakukan apapun, apa saja yang Bapak mau…"
Dosen muda tadi membalas tatapannya, "Apapun?"
"Apapun!", jawab sang mahasiswi secepatnya.
Suara dosen itu melembut, "Apapun?"
"Apapun…."
Akhirnya Pak dosen berbisik, "Maukah kamu……… belajar?"
Minggu, 30 Mei 2010
Belajar Beradab dari Kera
(sebuah intermezo dari video)
Kera bisa belajar satu sama lain, mengamati dan mengambil kesimpulan, bertindak bersama. Mereka mampu berburu menggunakan lembing buatannya sendiri, lengkap dengan metode kerjanya yang sangat rumit. Tak hanya di situ, kera bisa menciptakan budaya, bekerjasama, bahkan berkabung bersama.
Kera tak hanya bisa hanya meminta bantuan... tapi juga mampu berinisiatif menawarkan bantuan. Kera juga bisa merasa frustasi dan sengaja melakukan sabotase sewaktu merasa diri tidak mendapat keadilan. Semakin jauh, video ini kemudian memperlihatkan sebagian kera yang memiliki kemampuan intelenjensia luar biasa -- layak disebut
jenius ala kera. Ada yang mengenali ribuan kata bahasa dan bunyi kalimat manusia, memahami angka-angka latin, bahkan menentukan jumlah satuan makanan yang seekor kera rela untuk dibagikan ke kera lainnya. Persis seperti di dalam kelompok manusia, ada sebagian kera yang memiliki kemampuan intelejensia lebih tinggi dibanding sebagian besar lainnya.
Kita jadi bisa membayangkan, dengan seluruh kemampuan berpikir dan bersosialisasi, bangsa kera mampu mengembangkan peradabadan seperti manusia. Namun mengapa kera sampai sekarang tak kian berkembang seperti bangsa manusia?
Emosional Tanda Tak Beradab
Nyatanya, tak seperti manusia, simpanse paling pintar sekalipun tidak sering mempergunakan akalnya, paling tidak jauh lebih jarang dibanding kita. Video ini memperlihatkan bahwa kera memiliki masalah emosional. Mereka sangat mudah marah, bertindak mengikuti hawa nafsu dan emosinya.
Dengan kebiasaan cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati, impulsif, kera tak mampu belajar dengan tekun. Tidak seperti manusia, bangsa kera tidak pernah bertambah pintar mengelola perasaan hati. Yang menarik, kera bisa jadi jauh lebih mengendalikan emosi, bersikap tenang, sewaktu diajak menggunakan keterampilan yang diajarkan manusia. Ini mengingatkan kita bahwa kalangan terpelajar mampu bertindak secara lebih beradab, taktis, dan akhirnya menguasai berbagai keterampilan dengan lebih banyak.
Manusia pun akhirnya menunjukkan keunggulannya, yaitu karena sangat menyukai kegiatan belajar. Apa yang telah diketahui oleh seekor kera, akhirnya belum tentu akhirnya akan dipelajari oleh kera lainnya. Sedangkan manusia tak hanya menyukai belajar, namun memiliki keunggulan penting: memiliki keinginan untuk mengajarkan suatu keahlian ke manusia lainnya.
Sejak bayi, seorang ibu mengajarkan hal sebanyak-banyaknya pada anaknya. Hasrat ingin mengajarkan sesuatu pun akhirnya menjadi insting wajar manusia. Seterusnya hingga dewasa, manusia pun terus menghidupkan kebiasaan mengajar, membuat berbagai keahlian berkembang oleh proses ajar-belajar. Monyet, simpanse, orangutan, seluruh bangsa kera barangkali memiliki kemampuan kerjasama. Namun, mereka tak memiliki hasrat untuk mengajarkan keahliannya satu sama lain.
Mereka tak seperti manusia yang ingin mendorong orang lain untuk aktif belajar dari dirinya. Jadi, ingat saja. Bila tak mau belajar, maka kita akan seperti bangsa kera yang mudah dikuasai emosi. Kalau tak mau mengajarkan orang lain, kita tak membantu orang lain untuk bisa hidup lebih beradab.
Kera bisa belajar satu sama lain, mengamati dan mengambil kesimpulan, bertindak bersama. Mereka mampu berburu menggunakan lembing buatannya sendiri, lengkap dengan metode kerjanya yang sangat rumit. Tak hanya di situ, kera bisa menciptakan budaya, bekerjasama, bahkan berkabung bersama.
Kera tak hanya bisa hanya meminta bantuan... tapi juga mampu berinisiatif menawarkan bantuan. Kera juga bisa merasa frustasi dan sengaja melakukan sabotase sewaktu merasa diri tidak mendapat keadilan. Semakin jauh, video ini kemudian memperlihatkan sebagian kera yang memiliki kemampuan intelenjensia luar biasa -- layak disebut
jenius ala kera. Ada yang mengenali ribuan kata bahasa dan bunyi kalimat manusia, memahami angka-angka latin, bahkan menentukan jumlah satuan makanan yang seekor kera rela untuk dibagikan ke kera lainnya. Persis seperti di dalam kelompok manusia, ada sebagian kera yang memiliki kemampuan intelejensia lebih tinggi dibanding sebagian besar lainnya.
Kita jadi bisa membayangkan, dengan seluruh kemampuan berpikir dan bersosialisasi, bangsa kera mampu mengembangkan peradabadan seperti manusia. Namun mengapa kera sampai sekarang tak kian berkembang seperti bangsa manusia?
Emosional Tanda Tak Beradab
Nyatanya, tak seperti manusia, simpanse paling pintar sekalipun tidak sering mempergunakan akalnya, paling tidak jauh lebih jarang dibanding kita. Video ini memperlihatkan bahwa kera memiliki masalah emosional. Mereka sangat mudah marah, bertindak mengikuti hawa nafsu dan emosinya.
Dengan kebiasaan cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati, impulsif, kera tak mampu belajar dengan tekun. Tidak seperti manusia, bangsa kera tidak pernah bertambah pintar mengelola perasaan hati. Yang menarik, kera bisa jadi jauh lebih mengendalikan emosi, bersikap tenang, sewaktu diajak menggunakan keterampilan yang diajarkan manusia. Ini mengingatkan kita bahwa kalangan terpelajar mampu bertindak secara lebih beradab, taktis, dan akhirnya menguasai berbagai keterampilan dengan lebih banyak.
Manusia pun akhirnya menunjukkan keunggulannya, yaitu karena sangat menyukai kegiatan belajar. Apa yang telah diketahui oleh seekor kera, akhirnya belum tentu akhirnya akan dipelajari oleh kera lainnya. Sedangkan manusia tak hanya menyukai belajar, namun memiliki keunggulan penting: memiliki keinginan untuk mengajarkan suatu keahlian ke manusia lainnya.
Sejak bayi, seorang ibu mengajarkan hal sebanyak-banyaknya pada anaknya. Hasrat ingin mengajarkan sesuatu pun akhirnya menjadi insting wajar manusia. Seterusnya hingga dewasa, manusia pun terus menghidupkan kebiasaan mengajar, membuat berbagai keahlian berkembang oleh proses ajar-belajar. Monyet, simpanse, orangutan, seluruh bangsa kera barangkali memiliki kemampuan kerjasama. Namun, mereka tak memiliki hasrat untuk mengajarkan keahliannya satu sama lain.
Mereka tak seperti manusia yang ingin mendorong orang lain untuk aktif belajar dari dirinya. Jadi, ingat saja. Bila tak mau belajar, maka kita akan seperti bangsa kera yang mudah dikuasai emosi. Kalau tak mau mengajarkan orang lain, kita tak membantu orang lain untuk bisa hidup lebih beradab.
Rabu, 26 Mei 2010
Tangisan Sri Mulyani
Saat melepas jabatannya ibunda Sri Mulyani menangis, ia menyimpan fakta dan menyembunyikan kebenaran tuk kemaslahatan bersama. Satu guyonan lama, yang masih tepat dalam situasi dalam negeri saat ini. Orang Indonesia itu bisa dilihat dari gabungan dua hal dari tiga hal berikut. Kalau ada pejabat jujur, pasti dia tidak pandai, karena terus dibodohi. Kalau ada pejabat pandai, pasti dia tidak jujur, karena kepandaiannya untuk membodohi yang lain. Yang jujur dan pandai, tidak mau jadi pejabat, karena harus bekerja dalam ketidakjujuran atau mengabaikan kepandaiannya.
Saya tambahi sedikit rumusnya:
Pejabat + jujur + berani + vokal + tegas + sederhana = apes.
Contohnya, idola saya: mantan Kapolri Jenderal Pol Hoegeng Iman Santoso. Almarhum Gus Dur pernah melontarkan joke. Di Indonesia hanya tiga polisi yang tak bisa disuap. Yakni, polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.
Karena kejujurannya, dia justru dimusuhi oleh Orde Baru. Karena mengungkap kasus Robert Tjahjadi yang menyelundupkan mobil mewah ke Indonesia pada 1970-an, Hoegeng dicopot sebagai Kapolri oleh Soeharto. Ini disebabkan kasus itu diduga melibatkan Soeharto.
Hal yang sama dilakukan Soeharto pada Mayjen TNI (anumerta) D.I. Pandjaitan. Pandjaitan pernah membongkar kasus penyelundupan di Kodam IV Diponegoro yang dipimpin Soeharto. Alhasil, meski Soeharto tahu ada rencana kup oleh Letkol Untung pada 1 Oktober 1965, dia membiarkannya dan bertindak setelahnya seolah pahlawan. Akibatnya, Pandjaitan gugur setelah diculik dan ditembak di kediamannya pada subuh berdarah tersebut.
Saya sangat merindukan sosok Hoegeng di zaman edan seperti saat ini. Namun, seperti kata pujangga Ronggowarsito, yen ora melu edan, ora keduman!
Selamat Jalan Ibunda Sri Mulyani
Selamat Berjuang di Negeri Orang
Harumkanlah Negeri Bumi Pertiwi Ini
Saya tambahi sedikit rumusnya:
Pejabat + jujur + berani + vokal + tegas + sederhana = apes.
Contohnya, idola saya: mantan Kapolri Jenderal Pol Hoegeng Iman Santoso. Almarhum Gus Dur pernah melontarkan joke. Di Indonesia hanya tiga polisi yang tak bisa disuap. Yakni, polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.
Karena kejujurannya, dia justru dimusuhi oleh Orde Baru. Karena mengungkap kasus Robert Tjahjadi yang menyelundupkan mobil mewah ke Indonesia pada 1970-an, Hoegeng dicopot sebagai Kapolri oleh Soeharto. Ini disebabkan kasus itu diduga melibatkan Soeharto.
Hal yang sama dilakukan Soeharto pada Mayjen TNI (anumerta) D.I. Pandjaitan. Pandjaitan pernah membongkar kasus penyelundupan di Kodam IV Diponegoro yang dipimpin Soeharto. Alhasil, meski Soeharto tahu ada rencana kup oleh Letkol Untung pada 1 Oktober 1965, dia membiarkannya dan bertindak setelahnya seolah pahlawan. Akibatnya, Pandjaitan gugur setelah diculik dan ditembak di kediamannya pada subuh berdarah tersebut.
Saya sangat merindukan sosok Hoegeng di zaman edan seperti saat ini. Namun, seperti kata pujangga Ronggowarsito, yen ora melu edan, ora keduman!
Selamat Jalan Ibunda Sri Mulyani
Selamat Berjuang di Negeri Orang
Harumkanlah Negeri Bumi Pertiwi Ini
Langganan:
Postingan (Atom)