Kamis, 01 Oktober 2009

Kunci bahagia dan sukses

Assalamu’alaikum wr.wb

Shahabat yang baik
Sambil anda melanjutkan sharing saya, izinkan saya menyapa anda dengan doa. Semoga senantiasa limpahan dan curahan cinta Kasih Allah teruntuk kita semua. Mudah-mudahan pada hari ini, Amal ibadah bertambah semakin baik kualitasnya dibandingkan hari lalu.

Hari ini merupakan hari kedua dan sekaligus hari terakhir pelatihan saya di Aceh selama Ramadhan ini. Program pelayanan yang saya buat khusus untuk para Relawan Aceh. Ada pengalaman menarik, itu mebuat BELIEF dalam diri saya menjadi semakin bertambah, semakin meningkat dan semakin kuat.

Saya merasakan manfaat dan kekuatan “IKHLAS BERBAGI”. Pelaksanaan pelatihan full 2 hari. Sebelumnya saya bermaksud, agar harinya selang seling. Jadi stamina saya tetap fit. Namun, teman-teman di Aceh minta langsung 2 hari tanpa jeda. Sempat terfikirkan “Apakah sanggup? Biasanya di jakarta program 1 hari butuh minum banyak selama training.” Tapi, entah darimana datang keyakinan “Bismillah saja.”

Alhamdulillah niat Ikhlas Berbagi, Pelatihan berjalan sesuai harapan. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tau-tau sudah jam 16.00. Breakpun hanya sekali, yaitu untuk shalat Dhuhur. Sungguh kekuatan Ikhlas Berbagi ini, memberikan manfaat bagi saya. Rasa damai dan bahagia. Dan Belief saya pun semakin bertambah. Sehingga hadir pemahaman ;

“Dimanapun dan kepada siapapun Memberikan training. Baik itu program Pelayanan atau Bisnis (Berbayar). Niatkan Tulus IKHLAS BERBAGI. Lakukan semaksimal mungkin (Memberikan lebih). Dan biarlah hasil menjadi Urusan Allah.”

Lambadeuk, 15 september 2009
Aceh Besar
--
RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
www.rahmadsyah.co.cc
I YM ; rahmad_aceh

Menulis dengan penuh percaya diri

Pak Hernowo, saya memiliki beberapa problem menulis. Berikut ini adalah beberapa problem menulis yang saya rasakan. Namun, intinya, Pak Hernowo, saya merasa tidak percaya diri akan rangkaian kata-kata atau kalimat yang telah saya tulis. Nah, ketidakpercayaan diri itu muncul dikarenakan saya kadang-kadang mengalami ketakutan kalau-kalau nanti ada orang lain yang menilai tulisan saya dan ternyata tulisan saya tersebut tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan atau ejaan yang benar. Lantas, saya juga ketakutan kalau-kalau nanti orang yang membaca tulisan saya itu berkata bahwa banyak tulisan yang seperti yang saya buat. Dan, terakhir, soal kepemilikan kosakata yang masih minim sehingga tulisan saya cenderung monoton.
Semoga Pak Hernowo berkenan membahasnya. Terima Kasih Pak.

Terima kasih kembali. Problem ini sesungguhnya hanya Anda yang dapat mengatasinya. Benar, saya dapat membantu Anda untuk membahas problem tersebut. Namun, jika Anda ingin mengatasi secara tuntas, Anda sendirilah yang harus melakukannya. Problem yang Anda ungkapkan itu sesungguhnya tidak nyata. Problem itu hanya ada di dalam pikiran Anda. Secara lebih spesifik lagi, problem itu dibuat oleh pikiran Anda. Jadi, setelah dituliskan seperti ini dan dikomunikasikan kepada saya, Anda bisa melihat (membaca) bahwa problem itu sesungguhnya dapat Anda atasi segera karena memang tidak ada.

Lho kok tidak ada? Kan dapat dirasakan? Benar, problem menulis itu dapat Anda rasakan karena Anda menciptakannya dalam pikiran Anda. Sekarang begini, anggap problem itu tidak ada. Atau, anggap bahwa Anda hanya sendirian di muka bumi ini. Lantas Anda kepingin menulis sesuatu. Ketika Anda mulai menulis, Anda tidak memikirkan orang lain yang akan membaca dan menilai tulisan Anda. Anda menulis sesuai kehendak dan kemampuan Anda. Saya yakin Anda pasti dapat menulis dan tidak ketakutan lagi. Lalu, hasilnya bagaimana? Baik atau buruk?

Hasilnya pasti buruk apabila Anda hanya sekali jadi menulis. Menulis yang baik tidak dapat sekali jadi. Menulis untuk menghasilkan tulisan yang baik perlu kegiatan menulis yang mencicil, perlahan-lahan, dibaca ulang, diperbaiki, atau dituliskan kembali, dan seterusnya. Lantas, agar sesuai kaidah kebahasaan bagaimana? Ada banyak sekali buku pedoman EYD atau bagaimana menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jika Anda ingin memiliki pengetahuan atasnya, bacalah buku-buku tersebut dan terapkan dalam tulisan Anda. Jika Anda melakukannya secara kontinu dan konsisten, Anda tentu akan piawai menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan.

Bagaimana agar dapat memiliki kosakata yang kaya? Jawaban saya hanya satu: membaca. Dalam konsep saya “mengikat makna”, dengan jelas saya tunjukkan bahwa menulis perlu membaca dan membaca perlu menulis. Agar Anda dapat lancar dan mudah menulis, Anda perlu memperbanyak kata-kata yang Anda simpan di dalam diri Anda. Sebab menulis itu adalah merumuskan hal-hal yang Anda batin (yang ada di pikiran dan perasaan Anda) dengan bantuan kata-kata. Apabila kata-kata di dalam diri Anda sedikit, Anda akan tersiksa dalam menjalankan kegiatan menulis. Nah, membaca adalah cara paling ampuh untuk memperbanyak kata-kata. Apalagi jika setelah membaca, Anda “mengikat” atau menuliskan hasil pemahaman Anda atas apa yang Anda baca. Ditanggung Anda—selain akan kaya kosakata—akan juga memiliki keterampilan menulis tingkat tinggi karena setiap Anda membaca, Anda mengakhirinya dengan menulis. Bayangkan jika Anda setiap hari membaca dan menulis? Anda pasti akan menjadi orang yang sangat percaya diri dalam menulis. Insya Allah.

Oh ya, ada bagian yang belum saya jawab, yaitu soal hasil tulisan yang ternyata sama saja dengan tulisan orang lain. Atau, dalam bahasa Anda, Anda mengatakan “banyak tulisan yang seperti yang saya buat”. Begini. Manusia itu sesungguhnya unik jika setiap manusia mau kembali pada jatidirinya. Saya sangat meyakini soal ini. Jadi, kalau Anda menulis dengan pijakan menulisnya adalah diri Anda sendiri, tentulah hasil tulisan Anda akan unik. Cobalah menggali topik dari pengalaman Anda. Atau, jika topik itu berasal dari luar, kaitkan topik dari luar itu dengan diri-unik Anda. Jika hal-hal seperti ini terus Anda biasakan, saya yakin tulisan Anda nanti memiliki karakter sebagaimana diri Anda. Mungkin topik yang Anda tuliskan sama dengan topik milik orang lain. Namun, kesimpulan atau gaya Anda membeberkannya adalah khas Anda, yang tidak mungkin sama dengan kesimpulan atau gaya orang lain.

Demikian
Salam
Hernowo

100 orang paling berpengaruh di dunia


100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah karya Michael Hart telah menjadi fenomena di tahun 1970-1980-an. Betapa tidak, Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad Saw. di peringkat pertama dari 100 orang yang dia masukkan dalam buku itu. Kontroversi pun merebak, mengingat Hart sendiri bukanlah seorang Muslim. Lalu apa alasan Hart menempatkan rasul kaum Muslim di atas Buddha Gautama dan bahkan Yesus Kristus? Namun, kontroversi itu justru semakin menempatkan buku karya Hart sebagai buku terlaris di seluruh dunia dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sebuah karya yang bisa dikatakan abadi.

Pada zaman kejayaannya, buku ini menghiasi setiap rak buku masyarakat Indonesia. Menjadi bagian dari kenangan masa kecil mereka. Kini, buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1970-an itu diterbitkan lagi dengan judul 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah. Tak semata-mata ingin membangkitkan nostalgia kejayaan buku ini, namun penerbitan-kembali itu juga membawa revisi baru mulai dari pilihan orang hingga peringkatnya. Salah satu yang tidak berubah adalah peringkat yang disandang oleh Nabi Muhammad Saw. Manusia mulia ini masih berada di peringkat pertama sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah.

Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa aslinya pada tahun 1978 dan setelah tahun tersebut banyak sekali peristiwa sejarah yang terjadi yang menyebabkan Hart memutuskan untuk membuat edisi revisi walau sudah bertahun-tahun berlalu dari penulisannya yang pertama. Saran dan kritik dari pembaca pun menjadi pertimbangan untuk memperbaiki kekurangan yang terdapat dalam edisi pertama. Ambil contoh Mao Tze Tung yang menempati posisi #20 pada edisi pertama. Ketika buku ini dibuat, Mao baru saja wafat sehingga kenangan pencapaiannya masih begitu terasa. Namun, ketika Deng Xiao Ping menggantikan sosok Mao, pengaruh jangka panjang Mao pun ternyata tidak sebesar yang digembar-gemborkan pada edisi pertama.

Maraknya paham komunis pada saat buku ini pertama kali terbit juga turut memengaruhi peringkat pada edisi pertamanya. Namun, saat ini negara-negara komunis sudah berjatuhan sehingga tokoh-tokoh nonkomunis seperti Thomas Jefferson dan Adam Smith dirasa memiliki pengaruh yang lebih penting ketimbang yang tertulis di edisi pertama. Tokoh-tokoh modern seperti Mikhail Gorbachev, Henry Ford, dan Ernest Rutherford pun kini menghiasi peringkat 100 Orang Paling Berpengaruh. Keberhasilan Gorbachev mengubah Rusia dari negara komunis menjadi negara demokratis serta Henry Ford sebagai bapak industri modern jelas memberi warna modern dalam buku ini. Dan sebagai “korban” datangnya para pendatang baru tergusurlah kemudian beberapa nama dari buku ini, yaitu, antara lain, Niels Bohr, Pablo Picasso, dan Antoine Henri Becquerel.

Oleh sebab itu, pada bagian akhir buku ini, ada semacam halaman tambahan yang disebut sebagai “dibuang sayang” yang berisi profil singkat para tokoh yang dianggap penting tetapi tidak bisa dimasukkan dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh.