Ibu, kalau aku ditanya siapa pahlawanku
Namamu, Ibu, ’kan kusebut nomor satu
Karena aku tahu engkau adalah ibuku
Dan aku adalah anakmu.
–Penyair Zawawi Imron-
Puisi di atas ditulis Zawawi Imron pada 1960-an dan entah sudah berapa ratus kali dibacanya. Setiap membacanya, ia melakukannya dengan takzim dan tak jarang menangis.
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia yang berkaliber internasional, adalah contoh lain penyanjung sosok ibu. Karya-karyanya banyak diwarnai kisah-kisah yang melukiskan penghormatan yang tinggi kepada figur ibu. Termasuk, ibunya sendiri. Kekaguman tersebut dibungkusnya dalam cerita fiksi. ”Saya belajar kemandirian dan kejujuran dari ibu saya,” kata Pramoedya suatu ketika.
Bahkan, kata Pram, setelah ibunya meninggal ketika Pram masih sangat muda, dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar ia bertemu almarhum ibunya di bawah sebuah pohon mangga. Ketika Pram ingin mengambil buah mangga yang menggelantung di pohon, sang ibu menahannya.
”Jangan pernah mengambil barang milik orang lain tanpa seizinnya. Kalau kamu menginginkan sesuatu, kamu harus memperolehnya dengan keringatmu sendiri. Kamu harus bekerja,” kata Pram menirukan pesan ibunya sebelum bayangan sang ibu lenyap.
Tak sedikit pula pemimpin besar bangsa yang memuja ibu. Kaisar Prancis Napoleoon Bonaparte, misalnya. Ia sering mengungkapkan pujian-pujiannya kepada sang ibu. Demikian pula Soekarno, proklamator RI. Sang ibunda pula yang memberikan pangestu (restu) dan menjuluki Soekarno kecil sebagai putra fajar.
***
Agil H. Ali
Insan pers nasional pasti tidak asing dengan nama tersebut. Dia dikenal sebagai wartawan senior yang ulung, lihai dalam berorasi sekaligus tulisannya sangat bagus. Pengakuan tersebut dilontarkan oleh para tokoh seperti Prof Sam Abede Pareno, wartawan senior Zaenal Arifin Emka dan Djoko Pitono, serta sastrawan yang juga guru besar (gubes) IKIP Surabaya (kini Unesa) Prof Budi Darma.
Agil dikenal sebagai laki-laki yang pintar menulis sekaligus orator ulung. Sedemikian besarnya daya tarik Agil ketika berbicara dan memengaruhi media massa, dua jenderal terkemuka pada masanya, Jenderal Soemitro dan Jenderal Ali Moertopo, merasa perlu mengundang Agil untuk bertemu.
Para duta besar negara-negara kaya bergantian mengundang Agil untuk melakukan kunjungan jurnalistik ke negeri mereka. Agil pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam dua kali periode, pengurus Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS), dan anggota MPR.
”Ia memang pandai sekali berpidato. Pidato-pidatonya selalu menarik. Jarang saya menemui orang yang pintar bicara seperti Pak Agil,” kata Prof Budi Darma PhD.
Menurut gubes Unesa Prof Sadtono, orang-orang yang pintar berpidato dan menulis seperti Soekarno dan John F. Kennedy jelas adalah orang yang punya bakat besar dalam bahasa. ”Bakat itu adalah anugerah Tuhan kepada seseorang yang tak bisa dipelajari semua orang,” ujar Sadtono.
Agil adalah pendiri tabloid Mingguan Mahasiswa (1970-an) dan Mingguan Memorandum hingga menjadi koran harian (Memorandum, salah satu koran kriminalitas terbesar di Surabaya). Korannya telah menumbuhkan entah berapa ratus wartawan yang kini tersebar di berbagai media massa, termasuk radio dan televisi.
Kendati dikenal sebagai tokoh publik, Agil tak pernah lupa melontarkan kekagumannya kepada sang ibunda. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu memuji peran ibunya.
Agil pernah mengatakab bahwa ibundanya, Raden Ayu Syarifa Nur, sebenarnya perempuan yang buta huruf. Meski demikian, Agil mengaku belajar bahasa dan sastra dari ibunya. Kok bisa? ”Mengapa tidak, justru inilah yang luar biasa,” tegas Agil.
Dia mengatakan, kendati buta huruf, ibunya sering ”membaca” berbagai buku. Caranya, meminta anak perempuannya, kakak kandung Agil, untuk membacakannya. Buku sastra terkenal seperti novel karya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wick, dilahapnya.
Suatu ketika, Syarifa, ibunda Agil, bahkan ”menyelamatkan” Agil. Kisahnya, pada paro kedua 1960-an, Agil mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat. Dia mengutarakannya kepada orang tuanya. Agil mengatakan dengan tegas ingin kuliah di Negeri Paman Sam agar nanti bisa berkeliling dunia.
Tak disangka, sang ibu melarang. Dia cemas anaknya nanti terpengaruh budaya ”bebas” di sana. ”Tidak, kamu tidak perlu sekolah di Amerika. Sekolah di tanah air saja. Kalau sekadar berkeliling dunia, kamu nanti pasti bisa,” ucap Agil menirukan perkataan ibundanya.
Kata-kata ibunya kemudian terbukti di kemudian hari. Setelah menjadi wartawan dan memimpin surat kabar, Agil sering bepergian ke luar negeri. Sejak 1970-an, undangan jurnalistik sering diterimanya dari Amrika Serikat, Jerman, Jepang, dan lain-lain. Ia pun sering diundang untuk menghadiri pertemuan pers internasional.
”Hingga kini saya tidak paham benar kekuatan apa yang dimiliki ibu saya. Kata-katanya yang bernada ramalan itu ternyata terbukti. Mungkin karena ibu saya benar-benar dicintai Allah lantaran sering mengagungkan kebesarannya setiap saat,” tutur Agil.
Dia masih ingat saat pulang dari lawatan pertamanya ke Amerika pada awal 1976. Ketika itu dia mengikuti prgram student leader selama hampir dua bulan. Laporannya di Mingguan Mahasiswa, yang diakuinya sebagai salah satu ulisan terbaiknya, di antaranya berjudul Langit di Atas Arizona Juga Langitku.
”Bagaimanapun, tulisan-tulisan saya itu adalah hasil ajaran ibu. Ibu saya adalah guru besar saya meski buta huruf,” tegasnya.
Istri Agil, Dr Mangestuti, mengatakan bahwa kecintaan Agil terhadap sang ibu memang luar biasa. Agil dikatakannya selalu membanggakan jerih payah sang ibu dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Ibu dikatakan sebagai wanita yang pandai, berani, pemurah, dan sangat menghargai tamu. ”Sifat ibu itu melekat erat dalam diri Agil. Ia selalu menjamu tamu yang datang ke rumahnya dengan sangat istimewa,” kata Mangestuti.
Salam
Eko Prasetyo
Minggu, 02 Januari 2011
2011, Saatnya Action
Korupsi. Ya negeri ini memang banyak sekali korupsi. Ibaratnya dulu di zaman orde baru, korupsi masih dilakukan di bawah meja, sekarang ini, ketika reformasi bergerak, mejanya justru dikorupsi. Apa saja dikorupsi. Membangun jalan, aspalnya dikorupsi. Membangun sekolah, genting dan batu batanya dikorupsi. Semennya dikurangi. Pemenang tender juga ditentukan, setoran ke pejabat jalan terus. Korupsi punya motto sendiri; semua senang, semua kebagian.
Tahun 2010 telah kita tinggalkan. Semoga kita juga meninggalkan semua perilaku jelek kita. Terutama korupsi. Kita mulai tahun ini bekerja secara jujur, menolak semua upeti, gratifikasi, dan segala sesuatu yang berbau suap. Kita mulai di tahun baru ini, kita bekerja secara ikhlas. Menjalankan pekerjaan dengan senang, melayani masyarakat dengan senyuman. Kita harus mengubahnya dari diri kita sendiri, mulai hal yang kecil yang bisa kita kerjakan dan mulai sekarang. Kita, ya kita, kita semua perlu mengubah diri kita sendiri, bukan orang lain, bukan karena dipuji atasan. Kita, ya kita, bukan orang lain. Kita semua, diri kita sendiri, harus melakukannya. Sekarang…!!!
Tahun 2011, saatnya kita action. Saatnya kita bekerja. Saatnya kita mulai meninggalkan wacana-wacana yang tidak perlu. Saatnya kita do something untuk negeri ini. Melakukan sesuatu, mengerjakan sesuatu, memberikan sesuatu yang kita bisa dan yang kita punya.
Negeri ini sudah sakit-sakitan. Begitu banyak yang dikorupsi dari negeri ini. Begitu banyak yang dieksploitasi dari dalam buminya, dikeduk harta karunnya, ditebangi hutannya, diambil pasirnya, dan dizalimi rakyatnya.
Tahun ini kita bertekad untuk menjadi pemimpin yang berbudi luhur yang bercita-cita menyejahterakan rakyatnya. Tahun ini kita bertekad untuk menjadi rakyat yang mandiri dan sejahtera yang bisa berusaha, bekerja keras, dan tidak menjadi rakyat yang konsumtif tetapi rakyat yang produktif. Kita pasti bisa. Kita pppastiii bisaaa...!!!
Salam
Habe Arifin
Tahun 2010 telah kita tinggalkan. Semoga kita juga meninggalkan semua perilaku jelek kita. Terutama korupsi. Kita mulai tahun ini bekerja secara jujur, menolak semua upeti, gratifikasi, dan segala sesuatu yang berbau suap. Kita mulai di tahun baru ini, kita bekerja secara ikhlas. Menjalankan pekerjaan dengan senang, melayani masyarakat dengan senyuman. Kita harus mengubahnya dari diri kita sendiri, mulai hal yang kecil yang bisa kita kerjakan dan mulai sekarang. Kita, ya kita, kita semua perlu mengubah diri kita sendiri, bukan orang lain, bukan karena dipuji atasan. Kita, ya kita, bukan orang lain. Kita semua, diri kita sendiri, harus melakukannya. Sekarang…!!!
Tahun 2011, saatnya kita action. Saatnya kita bekerja. Saatnya kita mulai meninggalkan wacana-wacana yang tidak perlu. Saatnya kita do something untuk negeri ini. Melakukan sesuatu, mengerjakan sesuatu, memberikan sesuatu yang kita bisa dan yang kita punya.
Negeri ini sudah sakit-sakitan. Begitu banyak yang dikorupsi dari negeri ini. Begitu banyak yang dieksploitasi dari dalam buminya, dikeduk harta karunnya, ditebangi hutannya, diambil pasirnya, dan dizalimi rakyatnya.
Tahun ini kita bertekad untuk menjadi pemimpin yang berbudi luhur yang bercita-cita menyejahterakan rakyatnya. Tahun ini kita bertekad untuk menjadi rakyat yang mandiri dan sejahtera yang bisa berusaha, bekerja keras, dan tidak menjadi rakyat yang konsumtif tetapi rakyat yang produktif. Kita pasti bisa. Kita pppastiii bisaaa...!!!
Salam
Habe Arifin
Dari Emperan Taman
Kawan,
Dari emperan ini kukabarkan
Cerita usang dari balik koran
Dongeng lama dari balik jeruji
Kisah kuno dari legenda para sufi
Kawan,
Tangis lapar masih akan terdengar
Keluhan tak adil terus bergema
Vonis sesuka hati tak akan berhenti
Kawan,
Perhatikan!
Yang tajam ke bawah
Dan tumpul ke atas
Menyebar seperti hujan
Terserap tak ada bekas
Salam
Diana Dwi
Dari emperan ini kukabarkan
Cerita usang dari balik koran
Dongeng lama dari balik jeruji
Kisah kuno dari legenda para sufi
Kawan,
Tangis lapar masih akan terdengar
Keluhan tak adil terus bergema
Vonis sesuka hati tak akan berhenti
Kawan,
Perhatikan!
Yang tajam ke bawah
Dan tumpul ke atas
Menyebar seperti hujan
Terserap tak ada bekas
Salam
Diana Dwi
Langganan:
Postingan (Atom)