Senin, 02 Agustus 2010

Open Your Mind

SUATU ketika seorang mahasiswa tingkat undergraduate mengetuk ruang kerja saya di Bevier Hall– University of Illinois, Amerika Serikat (AS).

Sebagai teaching assistant di kampus itu, saya bertugas menggantikan seorang profesor yang mengajar mata kuliah consumer economics. Selain mengajar, saya juga membuat sebagian soal ujian dan memeriksanya. Dengan mimik penuh percaya diri, dia menyampaikan masalahnya. Dia menunjuk lembar jawaban soal yang terdiri atas pilihan berganda (multiple choice) yang baru saja dia terima.Nilai yang dia dapat tidak terlalu jelek, tetapi dia kurang puas dan mengajak saya berdiskusi, khusus pada sebuah soal yang dianggapnya terbuka untuk didiskusikan. Setelah membacanya kembali, tiba-tiba saya tersadar, soalnya memang konyol sekali.

Pertanyaannya kurang lebih seperti ini. “Berapa lama rata-rata rumah tangga menggunakan handuk mandi?” Tentu saja setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Namun karena mata kuliah ini didasarkan atas hasil riset, maka mahasiswa harus menguasai dasar-dasar perilaku konsumen yang datanya diperoleh secara riil dari riset. Jawabannya semua ada di buku teks. Jadi kalau buku dibaca atau bahan kuliah dipelototi, pasti mereka mudah menemukan jawabannya. Di buku teks jawaban tertulis, rata-rata rumah tangga mengonsumsi handuk selama delapan tahun. Dia memilih jawaban dua tahun.Tentu saja saya mencoretnya.

Bagi seorang guru, menemukan murid seperti ini mungkin biasa saja. Namun cerita berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan Anda tentang cara mendidik atau bahkan membimbing orang lain, karyawan, atau bahkan diri sendiri agar berhasil dalam hidup.

Kekuatan Argumentasi

Mahasiswa saya tadi mengajak saya berdiskusi, “Prof,” ujarnya. “Jawaban ini salah.” Saya mengernyitkan dahi. Maklum, belum pernah saya mendengar seorang mahasiswa di tingkat persiapan berani-beraninya menyalahkan soal, apalagi menyalahkan isi buku. “Maksud saya, setelah saya tanya-tanya ke kiri-kanan, tak ada orang yang menyimpan handuk mandi sampai 8 tahun,”lanjutnya.

“Jadi berapa tahun?” tanya saya. “Ya dua tahun. Ini jawaban saya benar,”katanya lagi. Saya pun teringat dengan cara teman-teman saya sewaktu kuliah dulu mengakali dosen yang “lemah”. Dosen seperti itu biasanya gampang diajak kompromi dan kalau kita pintar mengambil hatinya, angka bisa berubah. Maka, di kepala saya, berkompromi bukanlah karakter saya. Berkompromi sama dengan kelemahan, lembek, merendahkan martabat, plin-plan. “Jadilah guru yang teguh.” Kalimat itu terus mengalir di hati saya. Kompromi itu jelek, lemah, tidak konsisten, tidak berwibawa. “Ah, kamu ini cuma cari pembenaran saja. Ini justifikasi namanya. Pokoknya jawaban Anda salah.

Apa Anda tidak baca buku. Coba buka halaman 40,” ujar saya pada mahasiswa tadi. “Betul,”katanya lagi. “Di buku memang tertulis begitu. Saya tahu.” “Ah, Anda tidak baca saja…,” ujar saya lagi. “Bukan, tetapi ini tidak masuk akal.” Dia mencoba menjelaskan. Namun sebagai orang Indonesia yang terbiasa dididik tanpa kompromi di sekolah, saya mencoba untuk tidak mendengarkan argumentasinya. Saya khawatir wibawa saya terganggu. Dosen kok didebat. Namun dia tetap menjelaskan panjang lebar bahwa sekarang tidak ada lagi handuk yang seawet itu.

Dua tahun sudah rusak. “Dulu sabunnya tidak sekuat yang sekarang, lagipula mana ada produsen yang mau membuat handuk dengan material yang kuat dan harganya mahal? Konsumen memilih yang terjangkau dan produsen memilih barang-barang yang murah. Kalau cepat rusak tak apa-apa, setelah itu beli lagi,”katanya bersemangat. Matanya berbinar menjelaskan gagasannya dan penuh harap saya mau mengubah pendapat saya. Saya masih ingat dia menjelaskan tentang mesin cuci yang dulu tidak dipakai rumah tangga sehingga tidak merusak material. Lama kita berdebat dan sebenarnya saya suka mempunyai peserta didik yang kritis seperti itu. Namun, sebagai guru dari Indonesia, saya tidak suka ditawar-tawar.

Ini soal integritas. “Nope,” jawab saya menolak permohonannya agar saya mengoreksi nilainya. Dia pun keluar dengan kecewa. Saya berpikir, urusan pun selesai. Namun, di luar dugaan, setengah jam kemudian dia kembali lagi. Kali ini dia datang diantar profesor saya. Seperti tak ada masalah sama sekali profesor itu datang dengan penuh senyum. “Rhenald,”ujarnya. “I talk to this guy, and I like his idea.” Sudah tahu arahnya, saya pun segera menukas.“Yes, he did talk to me, and indeed he was wrong. He didn’t give the right answer,” ujar saya.

“Saya mengerti,” jawab profesor itu,“Tapi perhatikan ini. Saya suka cara berpikirnya. Dia memang memberi jawaban yang berbeda dengan buku, tetapi argumentasinya kuat dan dia benar. ”Singkat cerita, profesor itu meminta saya agar mendengarkannya dan memahami logika anak itu. Kejadian itu sekali lagi telah membuka pikiran saya. Betapa memalukannya otak reptil saya. Guru kok tertutup. Namun, saya beruntung segera menyadari kesalahan saya. Saya belajar bahwa saya menganut nilai-nilai yang salah.Tertutup, tak berkompromi, tegas, teguh, terlalu mengedepankan wibawa hanyalah merupakan bentuk defensif saya sebagai guru yang sebenarnya hanya perwujudan dari rasa takut yang berlebihan saja.

Takut dibilang lembek, kompromistis, mudah dirayu, tidak objektif,dan sebagainya. Pendapat yang semula saya tentang kini harus saya terima dan nilai anak itu saya koreksi. Bahkan seperti penjual kacang rebus yang suka menambah kacang ke dalam bungkusan pelanggannya, saya pun memberikan bonus angka kepadanya. Mendidik adalah lebih dari sekadar menjaga imej.

Mendidik adalah proses menjadikan orang lain seorang “master” dan bukan menciptakan pengikut. Yang ingin kita lahirkan adalah manusia yang mampu berpikir, terbuka terhadap logika. Bukan manusia-manusia dogmatik yang hanya mengikuti maunya kita,menulis apa yang kita diktekan, berpendapat apa yang menjadi pikiran kita, dan tak bisa menerima perbedaan pendapat. Malas berpikir.

Keluar dari Buku


Kisah anak-anak yang tak mampu berpikir di luar buku teks sudah banyak kita saksikan. Salah satu film yang paling saya suka dan selalu saya pakai untuk mengajari dosen-dosen muda menjadi pendidik adalah potongan film yang dibintangi Julia Roberts berjudul Monalisa Smile. Dalam film itu dikisahkan kesulitan seorang guru yang mengajar karena setiap kali dia menampilkan slide yang diambil dari buku, selalu disambar muridmuridnya yang berebut menjelaskan.

Dia benar-benar bingung. Muridnya aktif-aktif dan pintar-pintar. Mereka sudah membaca assignment sebelum pelajaran dimulai. Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri dengan baik sebelum masuk kelas dengan membaca, membuat ringkasan, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan aktif berbicara. Hari pertama mengajar dia gagal total. Namun minggu berikutnya, setelah merenungi dalam-dalam, dia mendapatkan ide. Kali ini dia mengajak murid-muridnya keluar dari buku teks. Dia menunjukkan slide yang sama sekali baru. Tak ada di buku dan bahan ajarannya sama sekali baru. “Coba lihatlah gambar ini. Apakah ini bagus?” Semua murid tertegun.

Gambar itu belum pernah mereka lihat dan tanpa referensi mereka tidak punya acuan sama sekali. Padahal, selama ini mereka hanya mengikuti perintah buku. Gambar itu bagus kalau kalimat di buku berkata gambar itu bagus. Sekarang saat gambar itu tak ada penjelasannya, mereka pun tak berani berpendapat. Mereka saling lihat kirikanan. Seorang yang mencoba menjawab kebingungan. “Apakah ada gambar yang bagus?” “Siapa yang berhak mengatakannya?” “Sesuatu yang bagus itu akan menjadi bagus tergantung siapa yang mengatakannya.” Mereka terbelah. Ibu guru pun menjelaskan wisdom-nya. “Look, kalian baru saja keluar dari cara berpikir buku teks,” ujarnya.

Dia mengajarkan perihal kehidupan, yaitu berani berpendapat dan membuat keputusan pribadi. Apa yang dapat dipelajari dari film Monalisa Smile dan kasus yang saya alami saat saya menjadi teaching assistant di University of Illinois dan berhadapan dengan mahasiswa yang minta agar saya mengoreksi jawaban soalnya 15 tahun yang lalu itu? Benar! Kita adalah manusia dan tugas guru adalah mendidik manusia, memerdekakannya dari segala tekanan, dari perilaku-perilaku buruk, dari pikiran-pikiran negatif, dari rasa sok pintarnya yang sesungguhnya belum apa-apa, dari belenggu-belenggu dogma, dan mengajaknya melihat keindahan dari apa yang diciptakan Tuhan.

Dari semua itu, yang terpenting adalah bagaimana kita hidup dengan otak yang terbuka dan mengajarkan keterbukaan. Bukankah otak kita bekerjanya seperti parasut, yang artinya dia baru bisa dipakai kalau dia mengembang dan terbuka? Itulah yang saya ajukan selama ini kepada anak-anak didik saya dan terbukti mereka mampu menjadi orang-orang yang hebat. Itu pula yang saya sharingkan kepada para guru dan dosen. Sebagian orang cepat mengubah diri, tapi sebagian pendidik lain tidak peduli dengan cara ini. Mereka tetap ingin mengajar dengan cara-cara dogmatik. Ingin dipuja tanpa argumentasi, tak mau mendengarkan, takut dibilang lembek, dan ingin diterima bak seorang ulama besar yang tak terbantahkan. Itulah hidup, tak semua orang mau berubah. Namun Anda tak perlu cemas.

Orang-orang seperti itu sudah pernah menyurati saya dengan amarah berlembar-lembar. Mereka menembaki saya dengan ratusan peluru. Di antara suratsurat cinta mereka pun ada yang berisi ancaman, memperingatkan saya dan mengusir dari keguruan ini. Namun saya berkeyakinan, seorang pendidik sejati tak akan menyerah oleh ancaman-ancaman kosong. Dia tak berorientasi pada persaingan, melainkan pada masa depan anak-anaknya.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

"Cari Bakat"

(sebuah cerita)

Aku harus temukan bakatku! Ini tekadku sekarang. Sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat dan ditunda lagi. Cukup sudah 20 tahun aku hidup tanpa tahu apa bakatku.

Tekadku ini bermula ketika aku menonton pertandingan karate Sarah, teman kampusku. Aku berdecak kagum melihat kepiawaiannya saat tanding. Dulu aku tak menduga gadis manis yang imut-imut itu adalah atlet karate. Saat tahu, aku benar-benar berdecak kagum. Bukan hanya karena ia seorang karateka profesional, tapi juga karena ternyata ia sudah menekuni bidang ini bahkan sejak ia belum bisa membaca. Umur 5 tahun! Kaget aku mendengarnya. Katanya, ayahnya juga seorang karateka dan sejak umur 5 tahun itulah ayahnya mengajarinya karate. ”Setelah dijalanin, ternyata karate emang enak dan gue ngerasa banget emang bakat gue disitu” ujarnya saat itu.

Oo... aku hanya bisa ber-o panjang. ”Dan kalau kita tekunin bidang yang emang bakat kita, pasti kita berhasil deh!” tambahnya lagi. Begitu ya. Jadi, kalau udah bakat
jalaninnya bakal gampang dan gampang berhasil juga. Padahal dari dulu aku lebih suka memperhatikan orang lain daripada diriku, apa kesukaan mereka, keahliannya, dan macam-macam lainnya. Tapi ucapan Sarah menggetarkanku.

Aku pegang ucapan Sarah itu dan bertekad akan mencari apa bakatku sebenarnya. Dari dulu, aku tak pernah fokus terhadap satu bidang. Saat TK, ada lomba mewarnai aku ikut, ada lomba melukis juga ikut, lomba baca puisi, peragaan busana sampai lomba sholat berjamaah aku ikuti. Saat SD juga sama. Tapi, prestasi yang aku capai dalam bidang-bidang tersebut juga biasa saja. Paling-paling juara harapan atau paling hebat juara III, tidak pernah menembus juara I. ”Yah...anak saya memang nggak bakat lukis bu...” itu ucapan ibu kepada Tante Mia, ibunya Mayang temanku, yang aku ingat saat mengantarku ikut lomba lukis dulu waktu aku kelas 3 SD di Taman Mini.

Saat itu aku tidak menang sedangkan Mayang berhasil menggondol sebuah piala emas
besar bertuliskan ”Juara I”. Saat itu aku hanya cengar-cengir saja. Wajar saja Mayang menang. Sejak TK, ia memang sudah sering menang perlombaan serupa. Waktu aku ke rumahnya, piala nya banyak sekali dan memang mayoritas dari hasil lomba melukis. Orangtua Mayang juga sangat mendukung anaknya dengan membelikan peralatan lukis yang bagus-bagus dan memasukannya ke sanggar lukis ternama.

Jadi aku tidak menang karena aku tidak berbakat. Jadi aku santai saja. Mungkin memang bakatku tidak disitu. Pasti di tempat lain. Itu pikirku saat itu. Dan sampai sekarang, 10 tahun sejak peristiwa perlombaan itu, aku masih belum menemukan dimana bakatku. Kata orang bakat itu musti dicari. Kalau tak dicari, takkan ditemukan. Maka, perjalananku mencari bakat dimulai.

Aku pernah mencoba menyanyi. Iseng-iseng ikut lomba karaoke saat 17 Agustusan di daerah rumahku. Sebelum tampil, nyaliku sedikit ciut karena peserta lain benar-benar memiliki suara yang aduhai. Saat giliranku tiba, aku makin deg-degan. Lagu dimulai. Aku mulai menyanyi perlahan. Aku merasa suaraku seperti suara kodok. Namun, aku tetap memaksakan diri tersenyum dan menyanyi karena di bawah panggung sana keluargaku memberiku semangat sambil bertepuk tangan. Sampai tiba pada bagian reff lagu, nada pada bagian itu cukup tinggi. Saat latihan pun, aku kadang kesulitan mencapai nada tersebut. Apalagi sekarang dalam suasana grogi dan dilihat banyak orang. Dan....hiiik. Akhirnya aku tak berhasil mencapai nada tinggi tersebut. Suaraku seperti orang yang tercekik dan seketika itu pula para penonton riuh menertawakanku. Cukup sudah menyanyi! Tak ada bakat disana!

Setelah peristiwa yang menjatuhkan harga diriku tersebut, aku benar-benar yakin bakatku bukan pada seni. Mungkin olahraga. Ya! Olahraga! Akhirnya mendaftarlah aku di tempat latihan karate Sarah. Dengan harapan mungkin disinilah bakatku. Walaupun aku pemula dan Sarah sudah jauh tingkatannya diatasku tapi aku tak peduli. Aku latihan tiga kali seminggu. Senin, Rabu, dan Jum’at. Awalnya aku bersemangat karena ini pertama kalinya aku ikut latihan bela diri seperti ini. Namun, lama-lama aku kelelahan sendiri. Latihan tiga kali seminggu dan sampai malam membuat kondisi fisikku drop. Belum lagi setiap pulang latihan badanku pasti pegal dan ngilu-ngilu. Duh! Bukannya bakat yang ditemukan, malah habis uang untuk beli balsem!

Setelah itu aku mau mencari bakat yang tidak membuat fisikku sakit. Aku mau mencoba menulis. Ini karena Mia, teman sekampusku, yang sering sekali menulis. Ia sering menulis apa saja. Cerpen, puisi, ataupun artikel yang kemudian dipajang di mading kampus atau dikirimkannya ke majalah-majalah. Menulis tidak akan membuat badanku ngilu-ngilu seperti latihan karate. Maka aku mau mencobanya.

”Mi, nulis susah gak sih?” tanyaku suatu ketika pada Mia.
”Nggak kok. Coba aja dulu. Nulis puisi kek atau apa gitu”
”Lo awalnya kenapa tertarik nulis?” tanyaku lagi.
”Iseng aja sih awalnya.

Eh, ternyata keterusan. Lagipula gue orangnya gak bakat ngomong. Gak bisa gue ngomong di depan orang banyak gitu. Jadi, gue lebih baik nulis. Mungkin bakat gue gak di ngomong, tapi di nulis” jelasnya. Oh...bakat lagi. Makin mantap aku menulis. Mungkin disinilah bakatku ditemukan.

Enam bulan kemudian aku berhenti menulis. Bukan...bukan karena badanku jadi pegal-pegal atau karena ditertawakan orang. Tapi aku kesal. Habis, ketika sedang semangat-semangatnya menulis aku bisa menulis sampai tiga buah puisi setiap harinya. Setiap minggu bisa menghasilkan satu artikel dan cerpen. Namun, setiap yang aku kirim ke majalah tidak pernah dimuat. Mading-mading kampus pun tak mau menerima. Kurang ilmiah katanya. Huh...padalah sudah semangat dan susah payah begini. Kalau bakat nggak mungkin ditolak, pikirku instan. Jadi, tinggalkan menulis.

Bakatku pasti ada di suatu tempat dan telah memanggil-manggilku meminta untuk ditemukan sejak 20 tahun yang lalu. Tapi entah mengapa aku tidak pernah mendengar panggilan itu. Sayup-sayup nya pun tak pernah. Mungkin bakatku bersembunyi mengharap aku mencari dan menemukannya. Tapi karena sekian lama tak kucari-cari jangan-jangan ia bosan memanggilku. Hingga sampai sekarang ia sampai lupa keluar dari persembunyiannya. Duh...apa memang begitu ya?

Pikiranku itu membuatku malas untuk mencari tahu lagi bakatku. Sudahlah, lupakan bakat. Jalani saja semuanya tanpa bakat. Toh, 20 tahun ini aku masih bisa hidup tanpa bakat. Sekarang, aku kembali lagi kepada kesukaanku yang dulu, memperhatikan orang-orang yang sudah atau sedang berusaha mencari bakat mereka. Aku makin senang memperhatikan Sarah yang makin cinta dengan karatenya, makin sering membaca tulisan-tulisan Mia, dan memperhatikan sikap-sikap serta kesukaan teman-temanku yang lain.
Kebiasaanku mengamati orang ternyata membuatku cukup mendalami karakteristik seseorang. Makin lama, makin mudah bagiku untuk menganalisa mereka. Hal ini tanpa disadari membuatku tahu bakat-bakat terpendam mereka. Menyedihkan memang mengetahui bakat orang lain namun tak bisa menemukan bakat diri sendiri. Tapi biarlah, daripada capek memikirkan bakat sendiri lebih baik mengamati orang lain.

”Kalau aku lihat, bakatmu memang bukan di bidang menyanyi Ras” aku berujar sewaktu aku sedang bersama Laras, teman sejurusanku, di kantin. Saat itu Laras sedang mempertanyakan mengapa hobi menyanyinya tak kunjung membuatnya berhasil. Setiap lomba yang diikutinya tak pernah menang. ”Padahal aku suka sekali menyanyi lho” ujarnya waktu itu. ”Yang aku lihat, kamu lebih berbakat di akting, bermain teater sepertinya cocok untukmu” tambahku.
”Masa sih? Lo tau darimana?” tanyanya heran.
”Gue inget waktu kita SMA dulu lo pernah main drama kan, akting lo bagus.
Trus juga gue liat suara lo bisa membantu lo”
”Iya sih. Kadang gue juga ngerasa gitu. Tapi gue gak pede aja. Gak yakin gue bisa. Kalo nyanyi kan emang udah dari dulu gue hobi. Walau kaga menang-menang”

Dan setelah percakapan kami itu, beberapa hari kemudian ia mendaftarkan diri pada sebuah klub teater fakultas. Beberapa bulan kemudian, aku dengar dia mengalami kemampuan pesat. Ia anak baru namun sering mendapat peran utama setiap tampil. Ternyata hobi menyanyinya membantunya dalam teknik berbicara dalam teater. Suaranya lantang dan pengucapannya jelas.

”Ternyata suara gue emang bukan buat nyanyi kali yah. Lebih oke kalo gue pake buat teater” ujarnya beberapa bulan kemudian. Setelah masalah Laras, aku makin suka menganalisa kemampuan seseorang.

”Gak papa kamu gak jago statistik, kamu tuh oke banget di marketing” saranku pada Siska suatu waktu saat dia curhat tentang nilai statistiknya yang selalu bisa ditunjukkan hanya dengan jari di satu tangan.
”Gue liat lo gak suka hitungan. Lo lebih suka berhubungan dengan manusia daripada angka. Cara lo berbicara bisa mempengaruhi orang lain” tambahku.

Siska manggut-manggut mungkin sambil berpikir ’iya juga yah”. Setelah Siska, aku bertemu dengan Randy yang kulihat sangat berbakat bermain alat-alat musik. Jiwa musiknya kental sekali terlihat. Namun, bakatnya sering ia lupakan seiring kesibukan tugas kuliah. Padahal ia sungguh pemain musik yang sangat berbakat. Aku juga sempat berbincang dengan Galih, yang kuliahnya sering berantakan dan terlupakan, bahwa ia sebenarnya luar biasa berbakat dalam sepakbola.

Setelah teman-teman kuliahku, aku juga sering menganalisa bakat-bakat dari murid-muridku di bimbel yang aku ajar. Awalnya hanya beberapa orang yang suka curhat padaku, tapi lama kelamaan menyebar dan hampir semuanya sering minta pendapatku ketika memilih jurusan untuk kuliah nanti.

”Kamu suka sekali membuat cerpen dan puisi, ditambah kecintaan kamu pada budaya Prancis, aku pikir kamu cocok di sastra, sastra Prancis mungkin” saranku pada seorang muridku.

”Kamu kan sering dimintai curhat dengan teman-temanmu, saran-saran kamu pun mereka anggap adalah saran yang terbaik. Psikologi aku rasa cocok” saranku pada murid kedua.

”Wah...kamu suka sekali baca koran kan? Kalau dengar kamu bicara, kepedulian kamu akan masa depan perekonomian Indonesia sangat besar. Ditambah nilai ekonomi kamu yang bisa dibilang sempurna dan kamu suka sekali berasumsi. Hmm...ilmu ekonomi” saranku pada murid yang lainnya.

Dan begitulah. Akhirnya aku lebih sering menggali apa bakat-bakat terpendam orang lain dan berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka mampu di bidang itu. Sampai suatu saat seorang temanku bertanya, ”Kalo lo sendiri bakatnya apa?”. Aku hanya senyum-senyum mesem.

6 tahun kemudian.
-----------------

Pekerjaanku cukup menyenangkan. Ditambah dalam pekerjaan ini aku bisa bertemu banyak orang dan menganalisa mereka. Aku bekerja di bagian talent agent sebuah stasiun televisi swasta. Setelah sebelumnya aku bekerja di bagian HRD, dimana aku bisa menganalisa kemampuan dan minat dari seseorang, sekarang aku dipindah di bagian talent agent.

Setelah sekian lama aku mencari bakatku dengan melukis, menyanyi, menulis, bahkan sampai karate akhirnya aku menemukan bakatku yang sudah bersembunyi sekian lama tersebut. Ternyata bakatku tidak perlu dicari seperti orang yang mencari jarum dalam jerami. Karena sebenarnya jerami-jerami itulah bakatku. Ia sudah ada sejak lama hanya aku tidak menyadarinya. Akhirnya aku tau bakatku: pencari bakat!

Sumber :
www.women.multiply.com

The life that I have

by: Leo Marks

The life that I have
Is all that I have
And the life that I have
Is yours

The love that I have
Of the life that I have
Is yours and yours and yours

A sleep I shall have
A rest I shall have
Yet death will be but a pause

For the peace of my years
In the long green grass
Will be yours and yours
And yours