Senin, 08 Juni 2009

Mental Guru

Apa musuh terbesar seorang guru?
Jika pertanyaan ini ditujukan kepada para guru di Indonesia, pastilah jawabannya sangat beragam. Sebagian ada yang menjawab masalah fasilitas sekolah yang kurang memadai, gaji yang tak layak, birokrasi yang menyebalkan, orang tua yang tak peduli pada anak-anaknya, dan sederet jawaban lainnya. Sedangkan sebagian lainnya akan menjawab bahwa musuh terbesar seorang guru adalah disiplin anak, kemalasan anak, dan ketidakpedulian anak terhadap proses belajar mengajar di kelas.

Musuh kedua ini selalu menjadi problem tak terselesaikan, jika seorang guru memiliki mental model yang sering memberikan labelling terhadap kondisi siswanya. Inilah sebenarnya musuh utama para guru kita. Karena itu sejalan dengan makin besarnya tantangan yang harus dihadapi oleh seorang guru, saat ini muncul sejumlah usaha untuk memperbaharui konsep atau gagasan tentang apa yang disebut sebagai guru berkualitas. Salah satu prasyarat yang dimemukakan oleh Peter Senge dalam The School That’s Learn (2003) perlu dipertimbangkan sebagai keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang. Keterampilan tersebut dinamai Peter Senge sebagai mental models, sebuah disiplin yang ingin menekankan sikap pengembangan kepekaan dan persepsi baik dalam diri sendiri atau orang sekitarnya.

Bekerja dengan membentuk mental ini dapat membantu para guru kita untuk lebih jelas dan jujur dalam memandang kenyataan yang tampak dari keragaman talenta yang dimiliki oleh setiap siswa. Pembentukan mental dalam pendidikan seringkali tidak dapat didiskusikan, dan tersembunyi, maka kritik yang harus diperhatikan oleh seorang guru yang belajar adalah bagaimana mereka mampu mengembangkan kapasitas untuk berbicara secara produktif dan aman tentang hal-hal yang berbahaya dan tidak nyaman, baik bagi dirinya, siswa dan lingkungan belajarnya. Karena itu penting juga bagi para guru untuk senantiasa aktif memikirkan asumsi-asumsi tentang apa yang terjadi dalam kelas, tingkat perkembangan siswa, dan lingkungan rumah siswa.

Jika mental model para guru kita dapat memahami dengan baik bagaimana keterkaitan antara teori belajar semacam constructivism dan cara otak bekerja dalam belajar (brain based learning), maka guru akan dapat menyimpulkan bahwa proses belajar itu adalah semacam pencarian sebuah arti (kehidupan). Karena itu belajar harus dimulai di antaranya dengan isu-isu keseharian siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka dalam rangka mencari pemaknaan yang lebih luas tenang suatu hal. Tetapi masalahnya jika guru kita memilii mental model yang selalu membuat labelling terhadap kondisi siswanya, jangan-jangan proses belajar mengajar hanya terbatas pada transfer ilmu sesaat tanpa menghiraukan kebutuhan siswa itu sendiri. Yang terjadi kemudian adalah adanya penanaman doktrin yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi psikologis anak.

Ada baiknya jika para guru mencoba merenungkan kata-kata bijak dari Khahlil Gibran, bahwa tugas utama seorang guru di antaranya adalah mengantarkan anak agar bisa melakukan eksplorasi secara maksimal terhadap daya jelajah intelektual mereka (The teacher if he/she indeed wise does not bid you to enter the house of his/her wisdom but leads you to the treshold of your own mind). Dalam konteks ini tentu saja mental model guru harus seimbang dengan prinsip etika ketimuran yang agamis dan penuh tradisi kesantunan. Jika tidak, maka kejadian saling mengejek antar guru di salah satu sekolah di Medan bisa jadi terjadi pada banyak sekolah lainnya di Indonesia. Bagaimana ceritanya?

Suatu ketika seorang guru matematika di salah satu sekolah di Medan mengejek dua orang rekannya, guru agama Islam dan Katolik. Si guru matematika ini bilang bahwa kedua orang guru agama rekannya ini dalam mengajar agama laksana seorang calo angkutan kota. Sang calo angkutan selalu berteriak: ”Siantar, Siantar, siantar.” kepada para calon penumpang. Namun ketika para penumpang masuk ke dalam mobil, si calo berbalik arah menuju warung untuk menyeruput kopi dan menghisap rokoknya. Tak perduli apakah penumpang itu sampai di Siantar atau tidak.

Apa yang terjadi kemudian? Kedua orang guru agama tersebut marah kepada guru matematika sambil berujar: ”Untung kau temanku, kalau tidak sudah kuberi kau ketupat Bengkulu”. Edu hanya mengurut dada, semoga mental model guru-guru kita tidak seperti ”calo” sebagaimana dimaksud dalam cerita di atas.

(Ahmad Baedowi)

Kegigihan berbuah sukses

Seorang tukang setrika di perusahaan binatu tinggal disebuah kontrakan kecil dan mendapat upah $60 seminggu. Istrinya bekerja di malam hari, namun dengan dua pekerjaan tersebut mereka nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Pada suatu hari bayi mereka terkena infeksi telinga. Mereka tidak memiliki biaya pengobatan dan harus menjual beberapa barang / perabotan mereka untuk membeli antibiotik.


Pekerja binatu ini ingin menjadi penulis. Setiap malam dan akhir pekan bunyi mesin ketiknya memenuhi kontrakan kecilnya. Dia menabung sebagian uang belanjanya untuk mengirimkan naskah pada penerbit dan agen. Semua orang menolak hasil karyanya, surat jawaban yang diterimanya pun cukup singkat. Bahkan dia sendiri tidak yakin bahwa hasil karyanya dibaca.

Pada suatu hari si pekerja binatu tersebut membaca sebuah novel yang mengingatkannya akan hasil karyanya. Kemudian dia mengirimkan hasil karyanya kepada sebuah penerbit buku, dan naskah itu diterima oleh Bill Thompson. Beberapa minggu kemudian, sebuah jawaban yang hangat dan ramah dia terimanya melalui pos. Naskah itu punya banyak kesalahan, tetapi Bill Thompson yakin pekerja binatu ini punya bakat sebagai seorang penulis dan mendorongnya untuk mencobanya lagi.

Dalam 18 bulan berikutnya, si pekerja binatu mengirimkan dua naskah lagi kepada editor. Namun sekali lagi pekerja binatu tersebut mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dari editor. Tanpa putus asa, si pekerja binatu pun mulai mengerjakan novel berikutnya. Namun karena tagihan yang terus menumpuk membuatnya mulai kehilangan harapan.

Pada suatu malam dia membuang naskahnya ke keranjang sampah. Keesokannya istrinya mengambilnya lagi. “Kau tak boleh menyerah saat keberhasilan telah begitu dekat” kata istrinya.Si pekerja binatu menatap halaman-halaman naskahnya. Mungkin dia tidak lagi punya kepercayaan diri, tetapi istrinya percaya. Demikian pula dengan seorang editor di New York yang belum pernah ditemuinya. Maka, setiap hari dia mulai menulis lagi untuk menyempurnakan kembali novelnya.

Setelah dia selesai, dikirimkannya kembali novel itu kepada Bill Thompson. Di luar dugaannya perusahaan penerbitan Thompson menyerahkan uang muka $2500, dan lahirlah cerita horor klasik Stepen King yang berjudul Carrie. Novel tersebut terjual lima juta eksemplar dan menjadi film yang paling banyak meraup keuntungan pada tahun 1976.

Orang-orang yang sukses menyadari betul bahwa untuk mendapatkan kesuksesan bukan hanya karena kepintaran maupun bakat yang kuat, tetapi lebih dari itu, kegigihan menjadi faktor yang lebih dominan untuk mengantarkan mereka kepada apa yang mereka cita-citakan.Orang yang sukses pun tahu bahwa tidak ada seorangpun yang mencapai puncak dengan hanya satu kali lompatan. Yang benar-benar membedakan mereka dari yang lainnya adalah kesediaan mereka untuk menaruh satu langkah di muka kaki lainnya, tidak peduli sesulit apapun.
Tetapi kadang-kadang orangyang paling gigih sekalipun merasa kelelahan bahkan mulai tidak percaya dengan apa yang dikerjakannya. Untuk itu mereka membutuhkan dukungan orang-orang disekitarnya, untuk memulihkan kepercayaan terhadap dirinya, cita-citanya dan pertolongan yang akan di berikan Allah. Seperti istri pekerja binatu yang senantiasa mendukung suaminya untuk terus berkarya.

Regards,

Febriya Fajri
Trainer & Motivator
0856-757-4843
http://wujudkan-mimpi.blogspot.com/

Anak kecil mungil itu...

Assalamu'alaikum wr.wb

Limpahan syukur kepada Allah, terutama kita pantaskan hanya bagi-Nya. Permohonan penuh harap kepada Sang Pengabul doa. Agar kiranya aktivitas kita lakukan dibimbing oleh-Nya /menuju kebaikan dan kebenaran. Dan mudah-mudahan tetap terjaga dalam sumur keikhlasan.. .

Jam 19.00 saya keluar dari bahana. Selesai siaran program "Power of Peace". Saya langsung menuju terminal Blok M dengan menggunakan jasa Bajaj. Alhamdulillah, setibanya disana adzan baru dikumandangkan. Dan dapat mengikuti shalat isya Berjamaah...

Selesai shalat menuju Mesjid KOMDAK. Biasanya setiap rabu malam, teman-teman dari tahajjud_call mengadakan pengajian tahsinul Quran. Dibimbing oleh ust-ust di mesjid disana. Sesampai di Halte Polda. Kondektur mengingatkan. .."Komdak. .Komdak". Alhamdulillah sampai juga...

Saat menyebrangi ke Polda, dijembatan (Halte) dari kejauhan saya melihat ada seorang ibu sedang tiduran. Disampingnya ada anak kecil mungil tertidur penuh keasyikan.. Semakin mendekati, kutatap wajahnya yang sedang tertidur pulas... Didalam sini ada bisikan membuat diri terasa pilu "Dan nikmat tuhan yang manakah engkau dustakan ?"

Begitu menuruni tangga, disanapun ku melihat ada seorang ibu tertidur pulas. Rambutnya sudah mulai memutih, baju yang dikenakan kemerja berwarna putih. Lengan kanan menjadi alas sandaran kepala. Dan dia pun tertidur dengan penuh pulas... sekali lagi bisikan itu muncul "Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?"

Syukur alhamdulilah, tak hentinya terucap untuk-Mu wahai Allah. Tatkala kaki terus melangkah menuju tujuan, pertanyaan perenungan muncul berbagai macam. Tengah malam yang dingin, walaupun aku mengenakan jaket. Kesejukan angin malam masih merasuki tulangku. Tapi anak kecil itu tidur dengan baju tak berlengan. Mulut ini tak kuasa menahan, Allahu Akbar. Tiba-tiba saja Seakan ada yang menasehati didalam sini.
Mad apakah engkau perhatikan karunia Allah berikan tadi? Masih pantaskah engkau mengeluh dengan kehidupan pemberian Allah berikan untukmu? Tidakkah itu bukti bahwa kamu lebih beruntung? Masihkah perlu engkau bertanya, apakah Allah memperdulikanmu? Bukankah Allah yang mencukupi rezekimu? Sungguh, bukan matamu yang buta, bukan pula telinganmu yang tuli. Tetapi Hatimu yang telah membeku...
Duhai Allah yang Maha Menatap, ampunilah kesalahan dan dosa hamba... Berikanlah kami hidayah-Mu, Agar kami tetap lurus dijalan Engkau inginkan. Berikan kami kekuatan agar kami mampu menjalani roda kehidupan yang telah Engkau Takdirkan. Berikanlah kami pertolongan Mu ya Rahman ya Rahim, Ya Karim Ya Zaljalali walikram...

RAHMADSYAH, C.MNLP
Motivator & Trauma Therapist
081511448147

YM;rahmad_aceh

www.rahmadsyah. co.cc